Rumah Sakit Panti Rapih dan RSUD Ende mendapatkan berbagai pengalaman baru dalam empat bulan terakhir periode ini. Terdapat beberapa perubahan yang mendasar selama empat bulan ini, terutama bergabungnya Bagian Kesehatan Anak FK Udayana / RSUP Sanglah dalam pelayanan medis di RSUD Ende setelah berpindahnya dr. Agata Agustini Utari, SpA ke Semarang.
Pembangunan PONEK 24 jam tidak dapat terlepas dari manajemen rumah sakit secara umum. Secara kebetulan, pada periode ini tim manajemen RS Panti Rapih dapat berperan serta dalam kegiatan performance management and leadership (PML). Pendampingan ini diharapkan dapat sinkron dengan usaha RSUD Ende untuk menjadi badan layanan umum daerah (BLUD). Dengan status BLUD, peningkatan pelayanan adalah syarat utama yang dapat secara terus menerus dievaluasi dan dikembangkan.
Pada akhir semester satu program sister hospital ini, keempat tugas utama yang dibebankan kepada RS Panti Rapih telah dapat terlaksana semua dengan baik. Keempat tugas tersebut adalah pelayanan PONEK 24 jam, capacity building, persiapan pendidikan dokter spesialis, dan pembinaan sistem rujukan.
Selama empat bulan terakhir terdapat upaya masif dan sungguh-sungguh dalam upaya peningkatan kompetensi pelayanan kesehatan di RSUD Ende. Pendampingan di lingkungan RSUD Ende sendiri telah dilakukan dengan bedside teaching, pertemuan klasikal, dan lain-lain. Di lain pihak, diadakan pula program magang tenaga klinik yang diikuti oleh enam karyawan RSUD Ende dan program magang manajemen yang diikuti oleh dua belas pejabat struktural di lingkungan RSUD Ende.
Kedua program pendampingan ini diarahkan untuk memupuk kerja sama internal di dalam unit kerja maupun antara unit kerja. Setiap tenaga klinik maupun pejabat struktural yang mengikuti program magang mendapatkan satu seri logbook yang harus diisi dengan refleksi perbedaan fakta-fakta tertentu di RS Panti Rapih dan di RSUD Ende. Refleksi-refleksi ini menjadi dasar pembuatan plan of action sekembalinya para tenaga klinik dan pejabat struktural di RSUD Ende.
Kabar gembira datang dari FK Udayana / RSUP Sanglah dengan secara resmi diterimanya dr. Gede Semarawima di program pendidikan dokter spesialis anestesi dan reanimasi dan dr. Ardanta Dat Topik Tarigan di program pendidikan dokter spesialis kesehatan anak. Keduanya adalah dokter pegawai negeri sipil (PNS) kabupaten Ende yang dikirim belajar dengan dukungan pembiayaan dari Kabupaten. Keduanya nanti setelah menyelesaikan pendidikan di FK Udayana / RSUD Sanglah akan melayani secara purna waktu di RSUD Ende. Keduanya juga telah menandatangani perjanjian notaris mengenai pelayanan di Kabupaten Ende.
Pembinaan sistem rujukan sesuai dengan program kerja telah dilaksanakan semua pada dua bulan awal program sister hospital reguler tahap kedua. Pada empat bulan terakhir, pembinaan sistem rujukan diarahkan pada kelengkapan syarat pengiriman rujukan yang sampai pada RSUD Ende. Masih terdapat cukup banyak rujukan baik ibu dan bayi yang tidak memenuhi himbauan sesuai mnemonic “BAKSOKU” (bidan/pengantar, alat kesehatan, kendaraan, surat rujukan, obat, keluarga, dan uang).
Pada monitoring dan evaluasi bulan Oktober yang lalu kami mencoba membuat terobosan dengan membuka sesi motivasi dan team working pada level pelaksana. Dalam keadaan yang rutin, para kepala ruang dan unit-unit kerja biasa ikut dalam sesi classroom pembahasan monev. Kali ini, para pelaksana di ruang pelayanan dan unit-unit kerja lain kami ajak untuk sejenak berkumpul, berdiskusi terarah, dan melakukan beberapa permainan untuk mengasah kerja sama.
Tanggapan para karyawan RSUD Ende di level pelaksana cukup bervariasi, namun sebagian besar mengaku bahwa kegiatan ini membuka wawasan mereka mengenai penyelenggaraan manajemen rumah sakit yang baik. Nampak bahwa kesadaran mereka untuk kolektivitas kehendak untuk maju mulai menggeliat. Dalam acara ini, manajemen RSUD Ende dapat melihat secara langsung semangat para karyawan untuk maju.
Walau demikian, usaha pendampingan yang secara masif sudah dilakukan oleh RS Panti Rapih ternyata belum berdampak secara signifikan dalam penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Sejak awal target kinerja kami tidak secara langsung mengarah pada penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi. Tim manajemen RS Panti Rapih lebih berusaha menekankan pada proses yang mendukung pelayanan PONEK agar dapat berlangsung lebih sistematis sehingga kualitas pelayanan PONEK akhirnya dapat meningkat. Namun tetap saja tim manajemen masih merasakan ketidakpuasan akibat angka kematian ibu dan bayi yang tidak banyak berubah.
Selama enam bulan terakhir (satu semester), terdapat tiga kematian ibu dan tiga belas kematian neonatus. Apabila dibandingkan per semester mulai dari semester pertama tahun 2010, angka kematian ibu relatif menetap dengan jumlah persalinan yang kurang lebih sama. Angka kematian bayi memang masih bervariasi namun kecenderungannya turun. Terdapat peningkatan angka kematian bayi yang cukup tinggi pada dua bulan terakhir.
Mencari penyebab kematian ibu dan bayi memang tidak mudah. Audit kematian memang rutin dilakukan, namun secara umum ada perbedaan latar belakang kematian pada ibu dan pada bayi. Banyaknya kasus obstetri di RSUD Ende adalah salah satu yang melatarbelakangi. Dengan pelayanan hanya satu ahli kebidanan dan penyakit kandungan menjadikan beban pekerjaan yang sangat tinggi dan kelelahan yang luar biasa. Latar belakang lain adalah tingginya kasus rujukan yang datang ke RSUD Ende. Sebagian besar masih belum disertai dengan sistem rujukan yang baik dan dengan demikian juga belum ditata laksana dengan baik dulu sebelum dirujuk.
Hampir dalam setiap kesempatan magang tenaga klinik di RS Panti Rapih selalu menyertakan perawat perinatologi. Total sudah ada tiga orang perawat dan kepala ruangnya yang sudah mengikuti magang di RS Panti Rapih. Satu orang perawat purna waktu dari RS Panti Rapih juga berkarya di ruang perinatologi. Setiap perawat yang mengikuti pemagangan selalu membuat rencana kerja. Sarana juga telah dilengkapi dengan mesin CPAP dan inkubator. Walau demikian masif usaha yang telah dilakukan, kematian bayi masih terjadi.
Kegiatan pemagangan tenaga klinik maupun manajemen mempunyai dampak kualitatif yang baik. Setelah kegiatan pemagangan, wawasan para tenaga klinik dan manajemen tampak lebih terbuka. Keterbukaan ini membawa pada komitmen untuk lebih baik dalam memberikan pelayanan medis dan pelayanan klinis lain. Dampak lain adalah adanya beberapa kebiasaan baik yang dibawa ke RSUD Ende. Salah satunya adalah briefing pagi, laporan pagi, buku-buku pencatatan dan dokumentasi, dan lain-lain.
Sejalan dengan analisis pada performance management and leadership (PML) yang dilakukan oleh tim yang sama, permasalahan yang mengemuka di RSUD Ende dalam hal kualitas pelayanan klinis adalah permasalahan kepemimpinan. Dengan adanya program (PML), diharapkan dapat memberikan nilai tambah positif pada pelayanan PONEK 24 jam lewat pendampingan kepemimpinan.
Demikian dapat disimpulkan bahwa pada semester pertama program reguler kedua sister hospital ini telah dapat dijalankan dengan cukup baik. Ada beberapa kendala yang muncul dan ada beberapa resiko yang harus dihadapi. Kematian ibu dan kematian bayi masih terjadi. Tim manajemen optimis bahwa kerja sama sister hospital ini dapat berhasil dengan baik pada akhir periode ini. Ditambah dengan kegiatan pendampingan manajemen dan kepemimpinan lewat PML, diharapkan kinerja RSUD Ende dapat lebih meningkat.