Tumpengan Tiga Tahun Sister Hospital

Periode akhir Juli dan awal Agustus selalu mengingatkan pada awal hubungan persaudaraan antara RS Panti Rapih dan RSUD Ende. Dalam kesempatan tahun ini, tiga tahun benar-benar dimaknai sebagai karya Tuhan sendiri. Tumpeng, dengan demikian, mengingatkan kami bahwa karya Tuhan sendiri seringkali diwujudkan dalam rupa yang sangat beragam namun mengajak orang untuk selalu bersyukur. Demikian di bawah ini adalah foto-foto tumpengan tiga tahun sister hospital di ruang Yayasan Panti Rapih, Kamis, 1 Agustus 2013. Selamat menikmati.

Tumpeng

Tumpeng yang akan dipotong menunggu.

Tumpeng

Tumpeng menunggu dipotong, nampak samping.

Potong Tumpeng

Dokter Toto sebagai team leader sister hospital memotong tumpeng menandai syukur atas perjalanan tiga tahun sister hospital RS Panti Rapih dan RSUD Ende.

Penyerahan Tumpeng

Dokter Toto menyerahkan tumpeng pada dr. Arif Haliman sebagai perwakilan Yayasan Panti Rapih.

Penyerahan Kembali

Dokter Arif menyerahkan kembali tumpeng pada orang lapangan yang dipilih, yaitu dr. Arian (manajer operasional) sister hospital.

Makan Bersama

Pemotongan tumpeng diikuti makan bersama hadirin, yaitu direksi dan panitia akreditasi.

Posted in Galeri | Tagged , , | Leave a comment

Executive Summary Laporan Akhir Tim Reguler II (Juli 2011 – Juni 2013)

Pendahuluan

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta (RSPR) dan RSUD Ende (RSE) telah menjadi mitra dalam kegiatan kerja sama clinical contracting out penguatan pelayanan obstetri dan neonatus komprehensif 24 jam (PONEK) selama kurang lebih dua tahun lima bulan. Proyek kemitraan yang disebut sebagai sister hospital (SH) ini dimulai dengan kedatangan tim pendahuluan pada akhir bulan Juli 2010. Sebagai penanda, dibuatlah suatu perjanjian kerja sama (PKS) antara RSPR dan Pemerintah Kabupaten Ende (Pemkab).

Periode pertama (Reguler I) dimulai minggu kedua bulan Agustus 2010 sampai enam bulan sesudahnya. Periode ini merupakan periode intervensi atas hasil penilaian cepat tim pendahuluan. Seluruh kegiatan dalam periode reguler I mengikuti kebijakan scope of service (SoS) yang ditetapkan dalam kontrak kerja antara RS Panti Rapih dan Coffey International. SoS yang dimaksud meliputi pelayanan PONEK, capacity building, pembinaan sistem rujukan, dan pendidikan dokter spesialis.

Periode reguler I dilanjutkan dengan periode yang disebut sebagai periode bridging sampai dengan tanggal 30 Juni 2011. Pada periode ini tim RSPR telah mulai mempersiapkan exit strategy dalam tahap awal dengan cara membangun kesepahaman bersama dengan RSE dalam pembuatan program kerja. Pendampingan manajemen sampai dengan batas tertentu yang terkait dengan sistem PONEK telah mulai dikerjakan intensif pada periode ini.

Periode bridging dilanjutkan dengan periode reguler II yang membentang mulai tanggal 1 Juli 2011 sampai dengan 30 Juni 2012. Pada periode reguler II ini program berkembang sangat pesat dan dengan integrasi program performance management and leadership (PML), kedua rumah sakit mencapai kecepatan yang cukup tinggi dalam meningkatkan pelayanan dan mutu. Program reguler II diperpanjang dengan addendum kontrak sampai dengan 31 Desember 2012 dan belakangan sampai dengan 30 Juni 2013.

 

Periodisasi Laporan

Penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi di RSE tentu tidak hanya akibat intervensi kedua RS mitra. Walau demikian, beberapa indikator telah disepakati antara kedua RS mitra, Australia Indonesia Partnership on Maternal and Neonatal Health (AIPMNH), dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ende (Dinkeskab). Indikator ini dinilai dalam periode waktu laporan tertentu.

Untuk memudahkan periodisasi laporan, tim RSPR telah merevisi sistem pencatatan data baru yang mengikuti pola di RSE. Pola ini tidak lagi sesuai dengan tanggal kontrak (utamanya untuk periode reguler I dan periode bridging) namun mengikuti tanggal kalender dengan unit rekapitulasi terkecilnya adalah satu bulan. Sesuai kesepakatan dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PMPK) pada akhir September 2012, maka periode laporan akan disesuaikan sebagai berikut.

Periode sebelum SH (Pre-SH) akan diwakili oleh periode mulai 1 Januari 2010 sampai dengan 30 Juli 2010. Pada periode ini belum ada sistem pencatatan baku sehingga angka-angka dalam setiap variabel diambil dari data register di unit kerja RSE. Tidak semua variabel juga dapat terisi dengan data. Tim RSPR tidak dapat melakukan verifikasi akurasi semua data dalam periode ini karena belum merupakan periode program.

Periode sister hospital 1 (SH1) akan diwakili oleh periode Agustus 2010 sampai dengan Juni 2011. Periode SH1 ini terdiri dari periode reguler I dan periode bridging. Walaupun periode ini dimulai pada minggu kedua Agustus 2012, namun pengumpulan datanya telah disesuaikan dengan tanggal kalender sehingga unit terkecil rekapitulasinya tetap dalam bulan. Periode bridging sesuai kesepakatan kami masukkan dalam periode SH1, sehingga data kuantitatif periode SH1 berlangsung mulai 1 Agustus 2010 sampai dengan 30 Juni 2011. Pada periode ini, kami mengakui ada beberapa selisih antara data yang dikumpulkan oleh tim RSPR dengan data yang ada di RSE. Sedapat mungkin kami melakukan konfirmasi data namun beberapa selisih masih tidak dapat dihindari.

 

 

Periodisasi Laporan

Istilah

Pre-SH

SH1

SH2

Durasi

7 bulan

11 bulan

24 bulan

Periode

Januari 2010 – Juli 2010

Agustus 2010 – Juni 2011

Juli 2011 – Juni 2013

Tabel 01. Periodisasi Laporan

 

Periode ketiga adalah periode sister hospital 2 (SH2). Periode SH2 mewakili periode tim reguler kedua ditambah addendum. Periode ini sebagian tumpang tindih dengan periode pendampingan PML. Periode SH2 dimulai tanggal 1 Juli 2011 sampai dengan 30 Juni 2013. Walau demikian, pada periode SH2 ini data kuantitatif pelayanan PONEK tersedia hanya sampai bulan Mei 2013. Pada periode ini ada revisi kecil pada struktur data kuantitatif. Skema periodisasi laporan dapat disimak pada tabel 1.

Kami perlu menambahkan bahwa tabel-tabel yang disajikan sedapat mungkin akan mengikuti periodisasi laporan seperti pada tabel 1. Walau demikian, ada beberapa variabel pelayanan yang oleh konsultan diminta untuk disajikan dalam bentuk bulanan. Kami akan menyajikan data-data tersebut sesuai permintaan.

Kegiatan PML banyak terintegrasi dengan kegiatan SH. Kegiatan-kegiatan dalam PML akan dilaporkan mengikuti struktur pelaporan PML yang berbeda dan terpisah dari laporan ini. Beberapa kegiatan PML yang relevan dengan kegiatan SH akan disinggung dalam topik-topik yang bersesuaian dengan kegiatan tersebut. Pada enam bulan periode terakhir, yaitu Januari 2013 – Juni 2013, kegiatan SH dan PML sudah menjadi satu sehingga seluruh kegiatannya kami laporkan dalam dokumen ini.

 

Ringkasan Eksekutif

Perlu disyukuri bahwa kegiatan SH ini telah dapat mencapai bulan Desember 2012. Pada akhir bulan Juni 2013, telah genap 35 bulan RSPR dan RSE bersaudara dalam ikatan kegiatan clinical contracting out yang lazim disebut sebagai SH ini. Berbagai kemajuan dalam pelayanan maupun dalam penampilan telah dapat disaksikan di RSE. Walau demikian, tidak adil rasanya bila kami tidak menyebutkan bahwa ada pula perubahan di RSPR terkait dengan kegiatan SH ini.

Sebelum membahas mengenai RSE, kami ingin terlebih dahulu menguraikan perubahan di RSPR. Bagi RS Mitra A (RSMA) lainnya, mendampingi sebuah RSUD adalah pengalaman yang tidak aneh. Pengalaman ini tidak sulit didapatkan dan bahkan menjadi semacam kewajiban moral. Semua RSMA adalah rumah sakit pendidikan yang selalu diwarnai dengan berbagai standar tinggi dalam pengelolaannya. Berbeda dengan RSPR, sebuah rumah sakit swasta yang hampir tidak pernah berkecimpung dalam hiruk pikuk perkembangan rumah sakit pemerintah.

Pengalaman mendampingi RSE dalam SH1 dan SH2 banyak berpengaruh pada pola pikir kami di RSPR. Wawasan kami menjadi terbuka, bahwa persaingan antara rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah dewasa ini telah sangat ketat. Semua rumah sakit pemerintah dengan konsep BLUD telah menunjukkan komitmen kerja keras untuk mencapai pelayanan prima. Pengelolaan keuangan, pengelolaan program, pengelolaan keselamatan pasien, dan akreditasi pada rumah sakit pemerintah yang kami saksikan selama mendampingi RSE kami serap dan kami terapkan secara bertahap demi memperbaiki kinerja pelayanan di RSPR.

Dapat disebutkan bahwa sebenarnya kami hanyalah lebih dulu memulai daripada RSE dalam hal pelayanan PONEK dan manajemen rumah sakit. Memulai lebih dulu berarti pernah belajar lebih dulu. Pengalaman inilah yang kami coba tularkan secara konsisten pada RSE. RSPR mewarisi budaya kerja yang dibangun dengan disiplin dan keteladanan tinggi. Beberapa dapat dipertahankan hingga saat ini dan mewarnai gerak langkah RSPR. Budaya ini juga kami perkenalkan kepada RSE agar dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi budaya di RSE.

Suatu kerja sama akan berhasil dengan baik apabila ada komitmen yang imbang antara RSPR dan RSE. Dalam hal ini, kami sungguh mengapresiasi peran dan komitmen para pimpinan, dokter, staf, dan karyawan lain di RSE. Semangat menuju perubahan ke arah yang lebih baik sejak awal nampak mendominasi kerja sama antara RSPR dan RSE. Sebagian besar bentuk kerja sama yang nampak sekarang ini merupakan hasil kemauan keras teman-teman di RSE. Satu hal penting dalam kerja sama ini adalah perubahan status RSE menjadi badan layanan umum daerah.

Pelayanan PONEK secara umum berjalan dengan lancar selama periode program SH2. Satu setengah tahun terakhir program ditandai dengan pelayanan oleh dua orang SpOG, satu orang residen mandiri ilmu kesehatan anak, dan seorang residen mandiri dari bidang ilmu anestesi dan reanimasi. Pelayanan PONEK yang bermutu juga telah diintegrasikan dalam program kerja dan kegiatan harian berbagai unit kerja, terutama yang terkait langsung dengan pelayanan PONEK, yaitu instalasi gawat darurat (IGD), kamar bersalin, kamar bedah, unit perinatologi, dan intensive care unit (ICU).

Walaupun pelayanan PONEK berjalan dengan baik, ada diskusi yang menarik mengenai tidak menurunnya angka kematian ibu dan bayi di RSE. Dalam penghitungan statistik, rasio kematian ibu, rate kematian bayi, dan persentase sectio caesaria meningkat secara signifikan dibandingkan periode program SH1. Jumlah ibu yang dirujuk ke RSE dari Puskesmas juga meningkat cukup signifikan. Kenaikan rujukan ibu ini tidak diimbangi dengan kenaikan rujukan neonatus. Mengapa hal ini terjadi akan dibahas dalam bagian lain laporan ini.

Untuk menunjang pelayanan PONEK ini, RSPR bersama dengan RSE telah membuat perjanjian kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan RSUP Sanglah. Kerja sama ini adalah untuk mencukupi tenaga profesional dokter di bidang ilmu kebidanan dan penyakit kandungan, kesehatan anak, dan anestesi dan reanimasi. Kerja sama ini juga telah dilanjutkan untuk periode enam bulan ke depan dan telah disetujui oleh AIPMNH.

Pendidikan dokter spesialis telah berhasil dicapai. Dari Kabupaten Ende, ada dua orang dokter PNS yang saat ini telah mengikuti pendidikan dokter spesialis atas prakarsa RSPR dan RSE. Keduanya menempuh pendidikan kesehatan anak dan anestesi dan reanimasi. Selain dua orang yang menempuh pendidikan atas prakarsa RSPR dan RSE, ada juga beberapa dokter dari berbagai bidang ilmu yang sampai saat laporan ini ditulis masih menyelesaikan pendidikan dokter spesialis di beberapa universitas terkemuka. Kami telah memastikan bahwa anggaran untuk pendidikan dokter spesialis ini telah disahkan, dan kami juga telah memastikan bahwa dana dapat cair untuk para dokter yang mengikuti pendidikan dokter spesialis.

Program capacity building masih bersandar pada konsep action learning. Selain pemberian materi pengayaan dengan cara klasikal dan bedside teaching, dilakukan pula kegiatan pemagangan di RSPR baik oleh tenaga klinis dan tenaga manajemen. Total tiga kali kami mengadakan kegiatan magang manajemen, satu untuk program SH klinis dan dua kali untuk program yang terintegrasi dengan PML.

Pembinaan sistem rujukan dalam periode ini dilakukan tidak hanya oleh para dokter spesialis namun juga terintegrasi dengan program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ende. Kunjungan yang dilakukan selain sebagai sarana capacity building bagi rekan-rekan di Puskesmas namun juga sarana pembahasan beberapa kasus rujukan. Sampai saat ini, kegiatan-kegiatan ini adalah ujung tombak pembinaan sistem rujukan. Dalam rencana kerja ke depan, sudah disepakati beberapa langkah menyeluruh dalam pembinaan sistem rujukan yang lebih baik.

Selain keempat scope of service di atas, masih ada beberapa hal yang menjadi perhatian, seperti misalnya permasalahan stok darah, jumlah dokter non spesialis yang makin menipis, dan beberapa masalah lain. Di dalam laporan ini juga akan disampaikan analisis mengenai kematian ibu dan bayi yang dapat dilakukan dari data kematian ibu dan bayi selama delapan belas bulan terakhir.

Secara umum, program SH selama dua puluh empat bulan terakhir ini dapat berjalan dengan baik. Dalam perjalanan ini juga masih muncul berbagai permasalahan yang akhirnya dapat satu demi satu diselesaikan. Program kerja satu tahun ke depan sudah disusun dengan integrasi antara program SH klinis dan PML. Kami sungguh berharap dengan semangat BLUD yang telah dapat diraih, RSE makin mengembangkan kinerja yang berorientasi kepada pasien dan pada akhirnya berhasil berperan besar dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Ende. Salam Fonga Sama!

Posted in Artikel | Leave a comment

Executive Summary Laporan Akhir Tim Reguler II (Juli 2011 – Desember 2012)

Perlu disyukuri bahwa kegiatan SH ini telah dapat mencapai bulan Desember 2012. Pada akhir bulan Desember ini, telah genap 29 bulan RSPR dan RSE bersaudara dalam ikatan kegiatan clinical contracting out yang lazim disebut sebagai SH ini. Berbagai kemajuan dalam pelayanan maupun dalam penampilan telah dapat disaksikan di RSE. Walau demikian, tidak adil rasanya bila kami tidak menyebutkan bahwa ada pula perubahan di RSPR terkait dengan kegiatan SH ini.

Sebelum membahas mengenai RSE, kami ingin terlebih dahulu menguraikan perubahan di RSPR. Bagi RS Mitra A (RSMA) lainnya, mendampingi sebuah RSUD adalah pengalaman yang tidak aneh. Pengalaman ini tidak sulit didapatkan dan bahkan menjadi semacam kewajiban moral. Semua RSMA adalah rumah sakit pendidikan yang selalu diwarnai dengan berbagai standar tinggi dalam pengelolaannya. Berbeda dengan RSPR, sebuah rumah sakit swasta yang hampir tidak pernah berkecimpung dalam hiruk pikuk perkembangan rumah sakit pemerintah.

Pengalaman mendampingi RSE dalam SH1 dan SH2 banyak berpengaruh pada pola pikir kami di RSPR. Wawasan kami menjadi terbuka, bahwa persaingan antara rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah dewasa ini telah sangat ketat. Semua rumah sakit pemerintah dengan konsep BLUD telah menunjukkan komitmen kerja keras untuk mencapai pelayanan prima. Pengelolaan keuangan, pengelolaan program, pengelolaan keselamatan pasien, dan akreditasi pada rumah sakit pemerintah yang kami saksikan selama mendampingi RSE kami serap dan kami terapkan secara bertahap demi memperbaiki kinerja pelayanan di RSPR.

Dapat disebutkan bahwa sebenarnya kami hanyalah lebih dulu memulai daripada RSE dalam hal pelayanan PONEK dan manajemen rumah sakit. Memulai lebih dulu berarti pernah belajar lebih dulu. Pengalaman inilah yang kami coba tularkan secara konsisten pada RSE. RSPR mewarisi budaya kerja yang dibangun dengan disiplin dan keteladanan tinggi. Beberapa dapat dipertahankan hingga saat ini dan mewarnai gerak langkah RSPR. Budaya ini juga kami perkenalkan kepada RSE agar dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi budaya di RSE.

Suatu kerja sama akan berhasil dengan baik apabila ada komitmen yang imbang antara RSPR dan RSE. Dalam hal ini, kami sungguh mengapresiasi peran dan komitmen para pimpinan, dokter, staf, dan karyawan lain di RSE. Semangat menuju perubahan ke arah yang lebih baik sejak awal nampak mendominasi kerja sama antara RSPR dan RSE. Sebagian besar bentuk kerja sama yang nampak sekarang ini merupakan hasil kemauan keras teman-teman di RSE. Satu hal penting dalam kerja sama ini adalah perubahan status RSE menjadi badan layanan umum daerah.

Pelayanan PONEK secara umum berjalan dengan lancar selama periode program SH2. Satu tahun terakhir program ditandai dengan pelayanan oleh dua orang SpOG, satu orang residen mandiri ilmu kesehatan anak, dan seorang residen mandiri dari bidang ilmu anestesi dan reanimasi. Pelayanan PONEK yang bermutu juga telah diintegrasikan dalam program kerja dan kegiatan harian berbagai unit kerja, terutama yang terkait langsung dengan pelayanan PONEK, yaitu instalasi gawat darurat (IGD), kamar bersalin, kamar bedah, unit perinatologi, dan intensive care unit (ICU).

Walaupun pelayanan PONEK berjalan dengan baik, ada diskusi yang menarik mengenai tidak menurunnya angka kematian ibu dan bayi di RSE. Dalam penghitungan statistik, rasio kematian ibu, rate kematian bayi, dan persentase sectio caesaria meningkat secara signifikan dibandingkan periode program SH1. Jumlah ibu yang dirujuk ke RSE dari Puskesmas juga meningkat cukup signifikan. Kenaikan rujukan ibu ini tidak diimbangi dengan kenaikan rujukan neonatus. Mengapa hal ini terjadi akan dibahas dalam bagian lain laporan ini.

Untuk menunjang pelayanan PONEK ini, RSPR bersama dengan RSE telah membuat perjanjian kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan RSUP Sanglah. Kerja sama ini adalah untuk mencukupi tenaga profesional dokter di bidang ilmu kebidanan dan penyakit kandungan, kesehatan anak, dan anestesi dan reanimasi. Kerja sama ini juga telah dilanjutkan untuk periode enam bulan ke depan dan telah disetujui oleh AIPMNH.

Pendidikan dokter spesialis telah berhasil dicapai. Dari Kabupaten Ende, ada dua orang dokter PNS yang saat ini telah mengikuti pendidikan dokter spesialis atas prakarsa RSPR dan RSE. Keduanya menempuh pendidikan kesehatan anak dan anestesi dan reanimasi. Selain dua orang yang menempuh pendidikan atas prakarsa RSPR dan RSE, ada juga beberapa dokter dari berbagai bidang ilmu yang sampai saat laporan ini ditulis masih menyelesaikan pendidikan dokter spesialis di beberapa universitas terkemuka. Kami telah memastikan bahwa anggaran untuk pendidikan dokter spesialis ini telah disahkan, dan kami juga telah memastikan bahwa dana dapat cair untuk para dokter yang mengikuti pendidikan dokter spesialis.

Program capacity building masih bersandar pada konsep action learning. Selain pemberian materi pengayaan dengan cara klasikal dan bedside teaching, dilakukan pula kegiatan pemagangan di RSPR baik oleh tenaga klinis dan tenaga manajemen. Total tiga kali kami mengadakan kegiatan magang manajemen, satu untuk program SH klinis dan dua kali untuk program yang terintegrasi dengan PML.

Pembinaan sistem rujukan dalam periode ini dilakukan tidak hanya oleh para dokter spesialis namun juga terintegrasi dengan program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ende. Kunjungan yang dilakukan selain sebagai sarana capacity building bagi rekan-rekan di Puskesmas namun juga sarana pembahasan beberapa kasus rujukan. Sampai saat ini, kegiatan-kegiatan ini adalah ujung tombak pembinaan sistem rujukan. Dalam rencana kerja ke depan, sudah disepakati beberapa langkah menyeluruh dalam pembinaan sistem rujukan yang lebih baik.

Selain keempat scope of service di atas, masih ada beberapa hal yang menjadi perhatian, seperti misalnya permasalahan stok darah, jumlah dokter non spesialis yang makin menipis, dan beberapa masalah lain. Di dalam laporan ini juga akan disampaikan analisis mengenai kematian ibu dan bayi yang dapat dilakukan dari data kematian ibu dan bayi selama dua belas bulan terakhir.

Secara umum, program SH selama delapan belas bulan terakhir ini dapat berjalan dengan baik. Dalam perjalanan ini juga masih muncul berbagai permasalahan yang akhirnya dapat satu demi satu diselesaikan. Program kerja enam bulan ke depan sudah disusun dengan integrasi antara program SH klinis dan PML. Kami sungguh berharap dengan semangat BLUD yang telah dapat diraih, RSE makin mengembangkan kinerja yang berorientasi kepada pasien dan pada akhirnya berhasil berperan besar dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Ende. Salam Fonga Sama!

Posted in Artikel | Leave a comment

Executive Summary Laporan Akhir PML

Manajemen Umum

Pendampingan manajemen umum meliputi difokuskan pada penetapan pengelolaan keuangan RSUD Ende sebagai badan layanan umum daerah dan pendampingan kompetensi kepemimpinan (leadership) direktur dan pejabat struktural lain. Manajemen aset juga menjadi bagian penting pada manajemen umum dan merupakan usulan dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dinkesprov) yang ditambahkan kemudian.

Keterampilan manajemen dan kepemimpinan bersifat abstrak namun secara riil dibutuhkan dalam keberhasilan suatu organisasi. Keahlian memimpin dan manajemen seseorang tergantung dari pengetahuan dan pengalaman dalam memimpin. Pendekatan yang dilakukan dalam PML di RSUD Ende adalah bagaimana seluruh program kegiatan dalam PML ini menjadi media belajar keterampilan kepemimpinan.

Berjalannya proses tercapainya luaran-luaran yang diharapkan oleh Dinkesprov dan RSUD Ende sendiri membutuhkan hal-hal mutlak yang terkait dengan keterampilan kepemimpinan dan manajemen. Pendampingan capacity building dalam bidang kepemimpinan dan manajemen ini difokuskan pada pemberian materi yang bersifat praktis disertai dengan penugasan dalam bentuk penyelesaian program PML yang telah disusun dan disepakati bersama. Hal ini sesuai dengan kerangka berpikir bahwa bila program PML telah berjalan dengan baik berarti para pemimpin dan pejabat struktural di RSUD Ende telah belajar meningkatkan kemampuan dalam memimpin dan melakukan manajemen terhadap sumber daya manusia dan sistem.

Khusus pada keterampilan kepemimpinan, fokus pembelajarannya adalah pada keempat pilar dasar leadership yaitu directing, coaching, supporting, dan delegating. Keterampilan ini akan dievaluasi dan didampingi selama program PML. Direktur RSUD Ende sendiri yang diharapkan memimpin seluruh prosesnya.

Pemahaman mengenai keempat pilar kepemimpinan di kalangan pemimpin RSUD Ende sendiri masih sangat perlu dikembangkan. Dalam beberapa pengamatan, pemimpin disalahartikan sebagai jabatan formal yang mempunyai wewenang untuk memerintah anak buah. Belum secara luas dipahami bahwa antara pemimpin dan yang dipimpin sebenarnya adalah satu paket tidak terpisahkan yang memerlukan kerja sama. Dengan kata lain, pemimpin dan yang dipimpin adalah sebuah tim.

Oleh karena itu, sesuai dengan semangat “fonga sama” yang telah dibangun dalam sister hospital, konsep pendampingan kepemimpinan dan manajemen di RSUD Ende tetap berfokus pada kerja sama yang merupakan intisari kepemimpinan. Kesediaan menjalankan peran sebagai pemimpin dengan directing, coaching, supporting, dan delegating, disertai dengan pemagangan yang benar, diharapkan ada peningkatan keterampilan kepemimpinan mereka. Begitu juga kesediaan anggota yang dipimpin untuk menjalankan tugas dengan bantuan direction, coaching, support, dan delegation yang benar akan meningkatkan rasa percaya diri dan saling percaya. Pada akhirnya, serangkaian program PML yang bisa terlaksana akan menjadi bahan refleksi pembelajaran peningkatan kemampuan manajemen dan kepemimpinan.

Pada bulan Oktober 2012 mentor lokal kami yaitu dr. Johannes Don Bosco Do, M.Kes. ditunjuk menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende. Pada tanggal 19-21 Desember 2012 dilakukan workshop rencana tindak lanjut setelah pengukuhan PPK-BLUD tentang kebutuhan dokumen yang harus dilengkapi. Dokumen-dokumen tersebut adalah: pengaturan kerja sama, pengaturan remunerasi, pengaturan pejabat pengelola, pengaturan pembuatan rencana bisnis dan anggaran, dan pengangkatan pegawai non PNS. Pada tanggal 20 Desember 2012 tim RSUD Ende telah berhasil membuat draf kebijakan remunerasi.

Penguatan praktek kepemimpinan dan manajemen dilakukan dengan menintegrasikan seluruh program sister hospital dan PML kedalam struktur formal organisasi RSUD Ende. Diharapkan setiap pemimpin di RSUD telibat aktif dalam melaksanakan program kerja SH dan PML selanjutnya. Secara berkala akan dilakukan komunikasi dalam rangka monitoring dan evaluasi melalui telekonferens yang akan dimulai pada bulan Januari 2013.

 

Manajemen Klinis

Sampai dengan akhir Desember 2012 ini, walaupun dengan ketidaksempurnaan di sana sini, keenam program kerja utama pendampingan manajemen klinis telah dapat diintervensi dengan cukup baik.

Salah satu syarat penting pada pembangunan sistem pengelolaan keuangan BLUD adalah standar pelayanan minimal (SPM). Standar pelayanan minimal ini adalah ibarat janji RSUD Ende kepada Bupati bahwa dengan PK BLUD, akan ada peningkatan pelayanan bagi masyarakat luas. Dalam dimensi mutu, dapatlah SPM ini dipakai sebagai titik tolak pengukuran mutu. Dokumen SPM telah dipersiapkan jauh hari sebelum pendampingan manajemen klinis ini dimulai dengan bimbingan oleh BPKP. Selain daftar indikator klinis yang mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan no. 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, BPKP menyarankan tim SPM RS untuk juga mengumpulkan indikator mutu dari masing-masing pelayanan berdasarkan sepuluh besar penyakit.

Dalam perkembangannya, setelah berkonsultasi dengan konsultan dari PMPK FK UGM, didapatkan pertimbangan penting bahwa SPM RS dengan standar tinggi dan ideal seperti itu akan menyulitkan pemenuhan standar tersebut oleh RSUD Ende. Bukanlah kondisi pencapaian ideal yang dituangkan dalam SPM RS, namun kondisi minimal yang harus terpenuhi sebagai tolok ukur pelayanan PK BLUD. Dengan pertimbangan inilah telah dilakukan revisi dokumen SPM RS.

Demikian pula pada pemenuhan berbagai standar peralatan dan sarana lain di unit-unit kerja, telah disesuaikan agar tidak terlalu banyak membebani penganggaran RSUD Ende ke depan. Hal ini mengingat kebutuhan untuk memenuhi standar pelayanan minimal tersebut cukup tinggi dan perlu direncanakan dalam beberapa tahap. Pendamping manajemen klinis belum dapat mengikuti secara detil perkembangan pengukuran SPM RS.

Revitalisasi fungsi komite medis di RSUD Ende dalam beberapa hal ternyata menjadi kontra produktif dari sisi pelayanan. Sejak dulu, komite medis RSUD Ende telah ikut berperan dalam pelayanan rumah sakit terutama dengan cara pengaturan rotasi dokter umum untuk mengikuti pelayanan spesialis. Selain itu, penjadwalan jaga, cuti, dan advokasi telah juga menjadi bagian kerja komite medis. Setelah Permenkes no. 755/Menkes/Per/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit diperkenalkan dan diimplementasikan dalam susunan komite medis yang baru, muncul berbagai permasalahan terkait teknis praktek dokter di dalam rumah sakit.

Hal ini persis seperti gambaran yang muncul pada berbagai pertemuan nasional dewasa ini bahwa komite medis mengurus berbagai hal yang terkait dengan proses administrasi praktek dokter di rumah sakit, namun melupakan fungsi utama sebagai badan profesional intra rumah sakit yang bertanggung jawab pada mutu pelayanan klinis. Menurut Permenkes baru tersebut, peran utama komite medis dalam rumah sakit adalah tata kelola klinis saja. Tata kelola klinis ini dibagi menjadi fungsi kredensial, penjagaan mutu, dan pembinaan etika. Walaupun struktur komite medis baru telah disahkan, masih jauh langkah yang perlu ditempuh sampai tata kelola klinis ini dapat menjadi roh yang menggerakkan komite medis.

Panitia mutu rumah sakit sudah dibentuk oleh Direktur RSUD Ende. Walau demikian, belum ada program kerja yang dapat disusun dan dilakukan. Penting untuk dicatat bahwa dalam dokumen rencana strategis yang dibuat terdahulu, tidak tertulis mengenai kewajiban para pejabat struktural RSUD Ende untuk mengurus mutu rumah sakit. Diharapkan dalam renstra yang baru komitmen ini sudah menjadi bagian integral dari integritas setiap pejabat struktural.

Program komunikasi dan kepuasan pelanggan juga belum terlalu banyak kemajuan. Saat ini, pendampingan klinis sedang bekerja sama dengan komite keselamatan pasien rumah sakit untuk menyusun beberapa kegiatan, utamanya hand hygiene yang akan melibatkan pasien dan keluarga. Untuk itulah nanti akan diperlukan berbagai media komunikasi dengan pasien dan keluarga pasien. Media-media komunikasi inilah yang nanti akan mengisi program komunikasi dan kepuasan pelanggan. Kami juga telah memasang satu buah baliho berukuran 3×4 meter di depan rumah sakit sebagai sarana edukasi kepada masyarakat luas mengenai pentingnya cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Juga akan ada kerja sama dengan panitia mutu rumah sakit apabila strukturnya sudah ada, untuk merevitalisasi kotak saran yang saat ini telah ada namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Salah satu kaitan penting tata kelola klinis dengan manajemen rumah sakit secara umum adalah penggunaan rekam medis sebagai sumber pelaporan untuk dasar pengambilan keputusan manajemen dan sebagai dokumentasi pelayanan klinis. Selain itu, pembangunan sistemik pelayanan rekam medis akan membantu RSUD Ende dalam kepastian hukum dan proses klaim terkait pembiayaan pihak ketiga.

Untuk meningkatkan aspek hukum dalam rekam medis, sistem pelaporan manajemen, dan dokumentasi pelayanan klinis, pendamping manajemen klinis bekerja sama dengan kepala instalasi rekam medis RS Panti Rapih. Dari kerja sama inilah kemudian muncul berbagai persoalan di dalam instalasi rekam medis yang harus terlebih dulu dibereskan sebelum dapat mencapai tujuan program kerja. Hal ini mulai dari pengaturan penjadwalan para perekam medis, perbaikan formulir-formulir rekam medis, pengelolaan arsip, dan pembaruan sistem pelaporan berdasarkan perkembangan keilmuan terkini.

Sebagian permasalahan dasar tersebut telah mulai dapat diperbaiki dan telah mulai nampak hasil perbaikannya. Ini terutama nampak pada proses pendaftaran pasien, proses pengambilan berkas rekam medis, dan lain-lain. Langkah selanjutnya yang perlu adalah percepatan pembaruan berbagai formulir rekam medis sebagai sarana utama dokumentasi pelayanan klinis, penyusunan BPPRM, dan pembaruan formulir informed consent.

Gerakan keselamatan pasien rumah sakit telah menjadi gerakan nasional yang tidak dapat dihindari lagi. Dalam instrumen akreditasi versi baru, pemenuhan sasaran keselamatan pasien menjadi syarat nilai major pertama yang harus mencapai 80%. Mutu pelayanan klinis semua diukur dari seberapa aman pelayanan medis dan pelayanan klinis dilakukan. Hal ini mendorong adanya program pembangunan sistem keselamatan pasien rumah sakit di RSUD Ende.

Pembangunan sistem keselamatan pasien di RSUD Ende dibuka dengan diadakannya workshop keselamatan pasien dan manajemen resiko klinis oleh tim keselamatan pasien RS Panti Rapih. Dalam kesempatan ini, diberikan semua materi sesuai dengan kurikulum pokok workshop keselamatan pasien dan manajemen resiko klinis yang diadakan oleh PERSI, KARS, IMRK, dan KKPRS.

Pendamping manajemen klinis bersyukur bahwa gerakan keselamatan pasien ini didukung oleh tim yang cukup solid sehingga RSUD Ende dalam waktu kurang dari satu bulan sejak workshop telah mendeklarasikan gerakan keselamatan pasien di RSUD Ende. Deklarasi ini penting, karena seluruh gerakan keselamatan pasien akan bersumber dari kekuatan komitmen seluruh elemen di rumah sakit terhadap keselamatan pasien. Dari berbagai program keselamatan pasien yang telah diperkenalkan, pendamping PML memilih satu program unggulan yaitu hand hygiene.

Program hand hygiene sebagai program unggulan tidak lepas dari keterikatan emosional dan prinsip pendampingan PML dan sister hospital. Kematian ibu dan bayi yang selalu menjadi sorotan dalam sistem PONEK 24 Jam di kegiatan sister hospital benar-benar berkaitan dengan infeksi. Infeksi yang terjadi di dalam rumah sakit, menurut berbagai penelitian, dapat ditekan sampai minimal dengan adanya program hand hygiene yang baik.

Di masa depan, hand hygiene akan menjadi materi utama program komunikasi dengan pasien dan keluarga pasien. Diharapkan hand hygiene menjadi nafas pelayanan di dalam RSUD Ende sehingga dapat meminimalkan infeksi baik dalam pelayanan neonatus, pelayanan maternal, dan pelayanan-pelayanan lain. Dengan adanya program implementasi hand hygiene ini, diharapkan angka infeksi luka operasi juga akan menurun.

Ke depan, fokus pendampingan manajemen klinis adalah pada beberapa hal penting yang telah dimulai dengan pendampingan pada tahun ini. Satu siklus audit akan dilakukan, terutama untuk kasus-kasus terkait PONEK 24 jam. Selain itu, optimalisasi kerja instalasi rekam medis akan lebih ditingkatkan dalam rangka penyediaan data dan informasi rumah sakit. Gerakan keselamatan pasien akan berkonsentrasi pada implementasi program kerja dan kegiatan hand hygiene sementara tim standar pelayanan minimal akan mulai secara lebih intens mengurus pengumpulan data, penghitungan, dan analisis standar pelayanan minimal. Program baru yang akan diperkenalkan adalah penyusunan panitia pengendalian infeksi rumah sakit.

 

Manajemen Keuangan

Seksi Akuntansi RSUD Ende belum mampu membuat laporan keuangan sesuai dengan SAP dan SAK terbukti belum adanya pembukuan akuntansi secara harian dan laporan keuangan dibuat secara tahunan oleh Kepala Bidang Keuangan dan bukan oleh Seksi Akuntansi. Untuk pembuat laporan keuangan belum bisa membuat secara rutin (periodik) karena kompetensi yang masih belum cukup (seorang sarjana kesehatan masyarakat) dan belum pernah kursus atau pelatihan untuk akuntansi terapan karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Dengan demikian dilakukan program untuk meningkatkan pengelolaan keuangan dengan melengkapi dokumen keuangan RSUD Ende (flow chart, SOP, dan formulir), penyusunan sistem keuangan (cash management system), sosialisasi draf cash management system serta penyusunan SOP akuntansi siklus pendapatan dan biaya.

Pada bulan Mei 2012 dilakukan workshop dengan judul “Sistem Keuangan BLUD” yang membahas laporan aliran kas dari akuntansi BLUD, siklus pemrosesan akuntansi, dan laporan akuntansinya. Setelah workshop, dilakukan sesi diskusi membahas perencanaan pembuatan flow chart pendapatan dan biaya dengan contoh yang dibawa dari PMPK UGM. Diharapkan RSUD Ende dapat membuat flow chart tersebut sebagai dasar alur dokumen dan transaksi yang ada.

Pada bulan Mei 2012 tim mitra A melakukan diskusi dan pemantauan tentang kelengkapan dokumentasi keuangan yang menghasilkan kesimpulan bahwa RSUD Ende belum mempunyai SOP tentang keuangan dan akuntansi. Workshop tersebut berjalan dengan baik, tetapi kelas cenderung tidak aktif karena tidak terjadi diskusi atau tanya jawab terkait praktik lapangan di RSUD Ende. Setelah workshop, dilanjutkan kegiatan pendampingan penyusunan manual sistem beserta formulirnya atau penyusunan sistem akuntansi dimulai dengan pembuatan sistem pendapatan dan biaya. Untuk menghasilkan dokumen keuangan yang tepat waktu, dalam pembuatan manual sistem dibentuk tim kerja yaitu: Herlina, Rina, Vincent, dan Masina. Pembentukan tim kerja untuk membuat arus sistem keuangan termasuk penyusunan flow chart, SOP keuangan, dan monitoring dan evaluasi internal.

Pada bulan Juni 2012 kami melakukan monitoring terhadap perkembangan tim dalam membuat manual mutu pendapatan dan biaya, tetapi belum ada hasil karena terkendala kesibukan rutinitas dan belum adanya SK Direktur yang menunjukkan penugasan dalam membuat manual mutu. Akhirnya kami dan ibu Mensi (kepala bidang keuangan) membuat usulan pembuatan SK kepada Direktur. Dengan demikian tim kerja keuangan RSUD Ende belum membuat dokumen keuangan seperti yang direncanakan.

Bagian koding verifikator internal Jamkesmas rumah sakit sudah bisa dan biasa dengan perangkat teknologi informasi terutama dengan kode INA-CBG’s, terbukti dengan pembuatan tagihan Jamkesmas yang tepat waktu. Dengan demikian tim mitra A melakukan kegiatan untuk meminimalkan jumlah piutang yang belum tertagih. Hasil diskusi dan pemantauan pada bulan Mei 2012 piutang Jamkesmas memang sulit untuk dicairkan secara tepat waktu karena ada beberapa faktor eksternal yang sulit dikendalikan pihak internal rumah sakit. Oleh karena itu, dilakukan perubahan program kegiatan yaitu dengan melakukan workshop pengelolaan logistik.  Workshop sistem pengelolaan logistik dilakukan dengan materi dari perencanaan, pengadaan, penyimpanaan, distribusi, dan pencatatan persediaan. Belum dilakukan analisis.

Rumah Sakit Umum Ende belum memiliki infrastruktur jaringan LAN (hardware) untuk mendukung pelayanan kesehatan di rawat jalan maupun di rawat inap. Selain infrastruktur hardware, RSUD Ende juga belum menerapkan billing system elektronik untuk memudahkan administrasi pelayanan rawat inap. Sistem operasional masih bersifat konvensional terutama bagian pendaftaran pasien yang masih manual (belum menggunakan perangkat komputer), demikian juga pada saat pembayaran pasien masih menggunakan kuitansi manual dan belum menggunakan kuitansi elektronik. Ini meningkatkan kebutuhan terhadap pengendalian internal yang baik untuk menghindari fraud.

Untuk meningkatkan akurasi data rumah sakit dan meningkatkan kecepatan layanan administrasi direncakanan penyusunan billing sistem rumah sakit. Program ini belum dilakukan karena adanya kebingungan antara kami (tim mitra A) dan PMPK UGM yang bekerjasama dengan AIPMNH yang akan melakukan installing software dan hardware untuk pelaksanaan billing system di RSUD Ende sebagai pilot project sistem informasi rumah sakit di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Seksi akuntansi belum mengerjakan proses akuntansi yang sebenarnya karena kondisi SDM yang kurang bisa bekerja dengan baik. Sementara ini proses akuntansi masih diemban oleh kepala bidang keuangan dan dikerjakan secara instan setiap tahun untuk laporan keuangan. Manual sistem sudah ada dan komputer masih terbatas, satu unit untuk dua orang. Juga kebijakan akuntansi untuk RSUD Ende belum ada. Untuk mendukung pelaksanaan BLUD rumah sakit maka harus melengkapi laporan keuangan berbasis pada SAK dan bukan lagi kepada SAP. Maka RSUD Ende harus bisa membuat laporan keuangan dengan standar umum. Dengan demikian dilakukan program kegiatan workshop pembuatan laporan keuangan sesuai dengan standar yang diharapkan dalam BLUD.

Pelatihan penyusunan laporan keuangan versi BLUD dalam pelaksanaannya dimulai dengan workshop Dasar-Dasar Akuntansi dan dilaksanakan pada bulan Mei 2012, tetapi hal ini kurang mempunyai nilai tambah pada staf keuangan dan akuntansi karena peserta tidak semua target peserta dapat hadir. Sesi diskusi juga tidak jalan karena tidak ada staf RSUD Ende yang mengajukan pertanyaan. Workshop berjalan dengan baik, tetapi pelaksana pembuat laporan keuangan di bagian keuangan dan akuntansi belum begitu paham karena bukan berlatar belakang dari akuntansi.

Pada bulan yang sama juga dilakukan workshop Pengenalan Standar Akuntansi untuk BLUD, workshop Sosialisasi draf cash management system dan penyusunan SOP akuntansi siklus pendapatan dan biaya. Dilakukan juga workshop “Sistem Keuangan BLUD” yang membahas laporan aliran kas dari akuntansi BLUD, siklus pemrosesan akuntansi, dan laporan akuntansinya. Workshop ini dilaksanakan bersamaan dengan membahas cash management system dan siklus pendapatan dan biaya. Pada sesi terakhir dibuat tim untuk mebuat kebijakan akuntansi yaitu: Ibu Ista dan Nona. Workshop ini berjalan dengan baik dan dibentuk tim kerja untuk mebuat kebijakan akuntansi. Pada bulan Juni 2012 dilakukan pendampingan penyusunan prosedur keuangan dan kebijakan akuntansi BLUD. Pendampingan dimulai dengan monitoring terhadap perkembangan tim dalam membuat kebijakan akuntansi sebagai dasar pembukuan transaksi. Belum ada hasil karena kendala kesibukan rutinitas dan belum adanya SK Direktur yang menunjukkan penugasan dalam membuat manual mutu. Akhirnya kami dan ibu Mensi membuat usulan pembuatan SK kepada Direktur. Hasil monitoring menunjukan bahwa tim kerja belum melakukan kegiatan dalam pembuatan kebijakan akuntansi.

Sebagai persyaratan rumah sakit yang berstatus BLUD harus bisa membuat tarif dengan berdasarkan pada perhitungan unit cost. Unit cost dapat dibuat bila rumah sakit dapat mengidentifikasi biaya dengan baik. Maka kami membuat program kegiatan dengan tujuan rumah sakit dapat mengidentifikasi biaya secara tepat. Inilah alasan dilakukannya workshop “Akuntansi Biaya Rumah Sakit” pada bulan Mei 2012. Workshop ini digabung dengan workshop penyusunan unit cost dan pentarifan, maka workshop diberi judul “Analisis Biaya Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Sebagai Dasar Penyusunan Pola Tarif Baru, Anggaran/Subsidi, Pengukuran Kinerja dan Negosiasi dengan Stakeholder”. Setelah workshop, dilakukan sesi diskusi. RSUD Ende belum melakukan klasifikasi biaya rumah sakit untuk pengambilan keputusan. Workshop berjalan dengan baik dan RSUD Ende sudah pernah menyusun unit cost tetapi belum selesai.

Pada workshop dilakukan sekalian dengan bimbingan teknis pembuatan unit cost metode double distribution dengan studi kasus rumah sakit swasta di Jawa Barat. Setelah bimtek, dilakukan diskusi bahwa RSUD Ende pernah melakukan pelatihan perhitungan unit cost dengan sistem double distribution pada tahun 2011 dengan melakukan analisis perhitungan dengan data tahun 2010. Sebelum diskusi berakhir dibentuk tim untuk membuat unit cost, yaitu: Ann, Risna, Gervas, dan Nona. Setelah satu bulan, dilakukan implementasi penyusunan unit cost. Pada tahap ini dilakukan pendampingan dengan dimulai monitoring penyusunan unit cost. Hasil monitoring implementasi penyusunan unit cost tidak jalan. Setelah itu pada tanggal 29 Juni 2012 dilanjutkan pendampingan oleh Bp Yos Hendra untuk penyusunan unit cost, tetapi RSUD belum bisa mempersiapkan data-data pendukung untuk penyusunan unit cost tersebut. Dengan kata lain, penyusunan unit cost belum berjalan.

Kemampuan SDM membuat anggaran masih berfokus pada satu orang yaitu kepala bidang keuangan. Penyusunan anggaran tahun 2012 sudah tepat waktu, sehingga dapat disimpulkan bahwa yang SDM yang paham terhadap RBA hanya kepala bidang keuangan saja. Kemampuan SDM dalam penguasaan anggaran terutama kepala bidang keuangan cukup baik, tetapi untuk struktural yang lainnya belum baik. Proses penyusunan RKA dan Anggaran sudah melibatkan semua unit kerja dengan mengumpulkan semua usulan unit kerja dikumpulkan melalui kepala bidangnya masing-masing, sehingga unit kerja hanya terlibat dalam pengusulan kebutuahan operasional tahun yang akan datang.

Selain itu setelah BLUD maka rumah sakit harus membuat RAB berdasarkan pada RSB, maka tim mitra A membuat program kegiatan dengan tujuan rumah sakit dapat menyusun anggaran rumah sakit yang komprehensif. Dilakukan Workshop “Penyusunan Rencana Strategi Bisnis (RSB)” pada bulan Mei 2012, sebagai permulaan sebelum dilakukan workshop penyusunan anggaran. Workshop Penyusunan Rencana Strategi Bisnis Rumah Sakit sudah dilakukan oleh ibu Putu Eka Andayani (PMPK) dengan didahului workshop BLUD. Pada kenyataannya RSUD Ende sudah membuat RSB, tetapi RSB yang disusun belum terintegrasi dengan dokumen SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang merupakan dokumen pokok untuk mengajukan BLUD. Dengan demikian setelah sesi workshop dilakukan dengan penilaian dan revisi RSB dan SPM dengan dipandu oleh ibu Putu. Workshop berjalan dengan baik dan RSUD Ende sudah mempunyai dokumen RSB dan langsung dilakukan assessment oleh ibu Putu Andayani. Workshop “Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA)’, maka dilakukan pendampingan penyusunan RBA. Workshop Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran dilakukan patan tanggal 07 Mei 2012 dengan didahului perhitungan proyeksi pendapatan dan biaya pada dokumen RSB. Pada tanggal 28 Juni 2012 dilakukan bimtek penyusunan RBA dengan seluruh staf keuangan dan akuntansi, tetapi kurang berjalan dengan baik karena RSUD Ende belum bisa membawa data keuangan  dan non keuangan rumah sakit sebagai dasar penyusunan RBA. Dilakukan pendampingan dalam revisi RSB dan menghasilkan dokumen RSB yang sudah direvisi.

Untuk mengetahui mutu pelayanan rumah sakit, maka kita harus bisa mengetahui penilaian kinerja Rumah Sakit. Dengan demikian, tim mitra A melakukan pendampingan dan sosialisasi “Pentingnya penilaian kinerja organisasi”. Pendampingan dan sosialisasi dilakukan dalam bentuk workshop yaitu “Kinerja Keuangan Organisasi Nirlaba”. Workshop dihadiri semua pejabat struktural. RSUD Ende sudah melakukan pembuatan penilaian kinerja dalam bentuk laporan keuangan dan laporan mutu pelayanan sebagai dasar persyaratan akreditasi lima bidang pelayanan. Hasil baru sebatas dalam sukses dilakukan workshop dan RSUD sudah membuat penilaian kinerja rumah sakit dengan standar akreditasi yang versi lama.

Supaya rumah sakit dapat mencapai tujuan operasional seperti yang diharapkan, maka dilakukan pengendalian untuk setiap proses kegiatan. Salah satu bentuk kegiatan tersebut adalah dengan diadakannya Satuan Pengendalian Internal (SPI) atau diusebut audit internal. Dengan demikian kami melakukan bimbingan teknis dan workshop SPI-Audit Internal. Bimtek SPI (Satuan Pengawas Internal) atau Audit Internal sudah dilakukan dengan materi audit internal operasional (kinerja) dan keuangan. RSUD Ende belum mempunyai SPI dan masih mempertimbangkan untuk pembentukan SPI karena keterbatasan jumlah sumber daya manusia (SDM).

Kegiatan tanggal 22-24 Agustus 2012 merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya yang sudah kami lakukan dalam bentuk workshop dan bimbingan tehnis dengan narasumber A. Yollan Permana, Yos Hendra, dan Sr. Valentina, CB. Pada tanggal 1-10 Mei 2012 sudah dilakukan kegiatan workshop tentang dasar-dasar akuntansi dan penyusunan laporan keuangan BLUD yang berbasis SAK (Standar Akuntansi Keuangan). Maksud dan tujuan workshop tersebut untuk menciptakan keseragaman dan konsistensi penyusunan laporan keuangan. Output dalam kegiatan tersebut adalah penyusunan kebijakan akuntansi.

Oleh karena itu, pada tanggal 27 Agustus 2012 dilakukan pendampingan penyusunan kebijakan akuntansi untuk RSUD Ende yang berbasis pada SAK. Selain itu kebijakan akuntansi dibuat sebagai salah satu bagian untuk melaksanakan PPK BLUD yang sudah direncakan RSUD Ende pada tahun tahun 2012. Kegiatan pendampingan dilakukan dengan cara narasumber mempersiapkan draf kebijakan akuntansi dan melakukan diskusi dengan staf akuntansi RSUD Ende (ibu Ista dan ibu Nona) terkait dengan persamaan sistem akuntansi yang dilaksanakan selama ini di RSUD Ende dan perubahan yang akan dilakukan bila sudah dinyatakan PPK BLUD. Secara ringkas kegiatan tersebut, adalah:

  1. Pembuatan draf kebijakan akuntansi berdasarkan rerangka SAK (Standar Akuntansi Keuangan).
  2. Melakukan diskusi dalam melakukan penentukan metode akuntansi yang akan dimasukan dalam kebijakan akuntansi tersebut.
  3. Melakukan simulasi dan pendampingan pembuatan jurnal transaksi berdasarkan SAK.
  4. Penyusunan kebijakan akuntansi sesuai dengan metode yang diharapkan RSUD Ende.

Kegiatan tersebut berjalan lancar dengan sistem komunikasi dua arah dan RSUD Ende berkomitmen untuk menyusun Kebijakan Akuntansi. Dalam diskusi kami juga melakukan evaluasi tentang hambatan pembiuatan kebijakan akuntansi di RSUD Ende, yaitu:

  1. Kesibukan dari staf akuntansi di RSUD Ende yang hanya dua orang dan harus mengerjakan kegiatan harian rumah sakit.
  2. Kurangnya wawasan terkait kebijakan akuntansi berdasarkan SAK.
  3. Kepala seksi akuntansi masih baru dan belum mempunyai pengalaman penyusunan laporan keuangan.
  4. Staf akuntansi hanya dua orang, sehingga kurang cukup dalam melakukan operasional harian rumah sakit sampai dengan pengendalian transaksi.

Dengan faktor hambatan tersebut kami melakukan beberapa strategi yaitu dengan memudahkan dalam membantu pembuatan draf kebijakan dan RSUD Ende dibimbing dalam mengulas draf kebijakan akuntansi disesuai dengan kondisi yang ada.

Setelah melakukan pendampingan penyusunan kebijakan akuntansi, pada tanggal 28 Agustus 2012 dilakukan pejelasan secara teoritis tentang analisis laporan keuangan. Penjelasan ini dilakukan untuk  memudahkan dalam membaca laporan keuangan demi pengambilan keputusan strategia rumah sakit. Pada sesi ini kami melakukan kegiatan dengan menggulang perhitungan analisis rasio yang dibuat oleh BPKP. Ternyata bagian akuntansi (ibu Ista dan ibu Nona) belum begitu mengerti cara melakukan analisis laporan keuangan dan hanya menerima jadi dari BPKP saja. Kami mendorong pemahaman analisis laporan keuangan supaya RSUD Ende khususnya bagian akuntansi dapat membuat dan menganalisis laporan keuangan. Proses kegiatan yang kami lakukan, adalah:

  1. Penjelasan definisi laporan analisis laporan keuangan.
  2. Menjelaskan rumus perhitungan analisis laporan keuangan (tujuh elemen dasar analisis laporan keuangan.
  3. Melakukan simulasi perhitungan analisis laporan keuangan berdasarkan laporan keuangan RSUD Ende taun 2011.
  4. Memberi penjelasan cara membaca analisis laporan keuangan

Kegiatan penjelasan dan penyusunan analisis laporan keuangan ada beberapa kendala dan hambatan, yaitu:

  1. Kesibukan dari staf akuntansi di RSUD Ende yang hanya dua orang dan harus mengerjakan kegiatan harian rumah sakit.
  2. Kurangnya wawasan terkait pembuatan analisis laporan keuangan sesuai standar BLU.
  3. Kepala seksi akuntansi masih baru dan belum mempunyai pengalaman penyusunan analisis laporan keuangan.

Sehubungan dengan kendala dan hambatan tersebut kami membuat rencana tindak lanjut yang sudah dilakukan bulan Oktober dan Desember 2012, yaitu:

  1. Kegiatan workshop pembuatan analisis laporan keuangan sesuai BLUD.
  2. Simulasi atau pelatihan pembuatan analisis laporan keuangan.
  3. Pendampingan implementasi pembuatan analisis laporan keungan.
  4. Melakukan post test dengan wawancara untuk staf akuntansi RSUD Ende

Pendampingan penyusunan unit cost di RSUD Ende mengalami beberapa hambatan, yaitu:

  1. Kesulitan dalam pengukuran konsumsi listrik dan air masing-masing unit kerja.
  2. Kurangnya koordinasi dalam pengisian template sehingga masih banyak koordinator unit kerja yang kebinggungan pengisiannya.

Untuk mengurangi atau memecahkan hambatan tersebut kami mempunyai beberapa rencana tindak lanjut, yaitu:

  1. Melakukan perhitungan kapasitas terpasang daya listrik setiap unit kerja (ruangan).
  2. Pemasangan meteran untuk mengukur penggunaan air khususnya untuk unit dapur, IGD, dan laundry.
  3. Melakukan sosialisasi terkait pedoman pengisian template.

Untuk mendukung pelaksanaan operasional rumah sakit yang efektif dan efisien, maka dilakukan pengelolaan biaya rumah sakit supaya dapat tercukupi oleh pendapatan rumah sakit. Oleh karena itu, tarif rumah sakit diharapkan disusun berdasarkan unit cost. Oleh karena itu, pada tanggal 29-30 Agustus 2012 dilakukan kegiatan pendampingan penyusunan unit cost diawali dengan kegiatan penjelasan model klasikal untuk menyampaikan langkah-langkah membuat unit cost beserta data-data yang diperlukan. Setelah penjelasan dilakukan diskusi untuk membicarakan kesulitan atau permasalahan dalam mengisi template unit cost yang sudah dibagikan kepada masing-masing koordinator unit kerja. Langkah berikutnya melakukan diskusi dengan sekretaris pelaksana unit cost untuk membicarakan tahap pengumpulan dokumen beserta permasalahannya untuk membuat rencana tindak lanjut dalam menyelesaikan pembuatan unit cost. Pada penjelasan tersebut dihadiri oleh semua tim penyusunan unit cost RSUD Ende minus ketua ibu Mensy Tiwe karena kesibukan beliau. Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk membantu tim penyusunan unit cost RSUD Ende dalam membuat unit cost 2012 berdasarkan data historis tahun 2011. Dengan demikian kami melakukan proses kegiatan, sebagai berikut:

  1. Penjelasan langkah-langkah penyusunan unit cost.
  2. Menjelaskan dokumen yang dibutuhkan dalam penyusunan unit cost.
  3. Melakukan diskusi untuk pengisian template unit cost.

Pelaksanaan proses kegiatan pada hari pertama (tanggal 29 Agustus 2012) berjalan lancar dengan berbagai pertanyaan mengenai pengisian template unit cost untuk bagian IPSRS, Radiologi, Gizi, dan Rawat Jalan.

Pada bulan Mei s.d. Juni 2012 tim mitra A sudah melakukan workshop dan diskusi tentang manajemen keuangan beserta turunanya (sistem akuntansi dan keuangan,  proses akuntansi dan pelaporan, PPK BLUD, unit cost dll). Dalam diskusi dan pengamatan tersebut diketahui bahwa dokumentasi keuangan RSUD Ende belum mempunyai manual sistem dan SOP tentang keuangan dan akuntansi. Pada pemantuan dan evaluasi singkat tanggal 27-30 Agaustus 2012 RSUD Ende belum membangun rancangan sistem akuntansi dan keuangan yang sesuai dalam workshop tersebut. Walaupun dalam kenyataan sudah dibentuk tim kerja untuk pembuatan manual sistem. Tim kerja tersebut adalah: Herlina, Rina, Vincent, dan Masina. Uraian tugas  tim kerja untuk membuat arus sistem keuangan termasuk penyusunan flow chart, SOP keuangan, dan monitoring dan evaluasi internal. Kami sangat berterima kasih pada PMPK UGM yang melakukan training jarak jauh untuk pembuatan manual sistem keuangan dan akuntansi rumah sakit pada bulan September s.d. Oktober 2012.

Pada bulan November RSUD Ende dikukuhkan sebagai PPK BLUD dengan demikian pada tanggal 19-21 Desember 2012 dilakukan workshop dan bimbingan pemenuhan dokumen paska penetapan BLUD, yaitu: dokumen remunerasi, pengaturan kerja sama, pengaturan pejabat pengelola, pengangkatan pegawai non PNS, dan pengaturan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA). Pada tanggal 20 Desember 2012 dilakukan pembuatan draf dokumen remunerasi dibawah bimbingan Bp. Agus Sriyana, S.H. (RSUD Panembahan Senopati Bantul, Yogyakarta). Pada tanggal 21 Desember 2012 dilakukan monitoring dan evaluasi kinerja pembuatan dokumen akuntansi dan keuangan, yaitu: pedoman akuntansi (kebijakan akuntansi), sistem dan prosedur akuntansi, dan pedoman investasi.  Dokumen tersebut belum selesai dan akan dilanjutkan pada periode PML periode berikutnya, yaitu periode Januari s.d. Juni 2013. Pembuatan dokumen akuntansi dan keuangan supaya tidak menyimpang dari peraturan dan perundang-undangan rumah sakit daerah, maka tim PML Rumah Sakit Panti Rapih bekerjasama dengan BPKP Provinsi Kupang dan Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Ende. Selain itu pada periode PML tahun 2013 mempunyai target pembuatan billing system dan rekam medis. Dengan demikian RSUD Ende harus mampu mengadakan investasi hardware untuk pembuatan billing sistem karena software akan mendapat pasokan dari PMPK UGM secara gratis hanya membayar biaya akomodasi installing dan support system.

Posted in Artikel | Leave a comment

Faktor-faktor yang Berkontribusi pada Kematian Ibu dan Bayi

Tim manajemen RS Panti Rapih dalam kerja sama sister hospital melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang berkontribusi pada kematian ibu dan bayi. Berikut adalah kesimpulan kami dalam bentuk diagram. Kami sepakat menerbitkannya saat ini sebagai kontribusi kami untuk proyek kerja sama sister hospital di Nusa Tenggara Timur.

(C)Copyright: Triharnoto; Robertus Arian D.; John Hartono; A. Yollan Permana

Faktor-faktor yang berkontribusi pada kematian ibu dan bayi.

Kami berharap siapa saja yang berkecimpung dalam pelayanan ibu dan bayi di tingkat pelayanan rumah sakit dapat menganalisis masing-masing faktor yang berkontribusi di tempat masing-masing. Salam Fonga Sama!

Posted in Artikel | Tagged , , , , | Leave a comment

Executive Summary Triwulan Tiga

Catatan: Executive summary laporan triwulan empat telah kami terbitkan tanpa sadar bahwa executive summary laporan triwulan tiga belum terbit. Sebagai pelengkap, executive summary triwulan dua telah juga terbit.

Terdapat dua hal mendasar yang menjadi perhatian pada akhir triwulan ketiga ini. Dua hal tersebut adalah masih banyaknya masalah teknis yang timbul di lapangan sesuai dengan temuan tim independen HOGSI dan masih belum memuaskannya angka-angka pada indikator pelayanan PONEK 24 Jam. Selain itu, masa ini adalah masa transisi ketika kedua rumah sakit perlu memikirkan keberlangsungan program. Keberlangsungan program yang dimaksud adalah integrasi pembinaan pelayanan PONEK 24 Jam dengan pendampingan manajemen di performance management and leadership (PML).

HOGSI dalam kesimpulan laporan independennya menuliskan bahwa kinerja pelayanan PONEK 24 jam di RSUD Ende berada pada nilai 22 yang berarti tingkat pelayanan kinerja sedang. Terdapat banyak sekali hal yang harus diperbaiki dalam pelayanan PONEK 24 jam di RSUD Ende. Dalam banyak masalah tersebut, juga terdapat beberapa hal yang sangat mendasar seperti misalnya pengadaan tenaga dokter spesialis anak.

Tim manajemen RS Panti Rapih beserta direktur dan manajemen RSUD Ende berusaha merespon dengan baik laporan tim independen tersebut. Salah satu aksi yang segera direncanakan adalah dengan membuat suatu perencanaan yang bersifat sistemik di RSUD Ende untuk mempergunakan sumber daya yang ada untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang baik.

Permasalahan lain yang menjadi fokus perhatian tim manajemen RS Panti Rapih adalah masih tingginya angka-angka mortalitas maupun morbiditas. Di satu sisi hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara penemuan masalah teknis tim independen HOGSI dengan luaran pelayanan.  Walau demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat juga kecenderungan naiknya angka rujukan ke rumah sakit. Sejumlah sosialisasi dan berbagai pertemuan di tingkat Kabupaten telah menunjukkan adanya sentimen positif para pelaksana pelayanan kesehatan dasar terhadap kinerja rumah sakit.

Sentimen positif ini dilahirkan dalam bentuk peningkatan kesadaran untuk merujuk pasien dengan kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi di tingkat pelayanan dasar ke rumah sakit. Pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten tetangga misalnya kabupaten Ngada dan kabupaten Nagekeo juga mengirimkan pasien rujukan PONEK ke RSUD Ende. Dengan adanya dukungan pembiayaan via jamkesmas, jamkesda, dan jampersal, akses masyarakat ke pelayanan kesehatan rumah sakit meningkat.

Keterangan lengkap mengenai data kedua permasalahan di atas dapat dibaca pada bab-bab selanjutnya.

Perhatian lebih lanjut diberikan pada integrasi pembangunan sistem PONEK 24 jam dan pendampingan PML. Tim manajemen RS Panti Rapih dan pendamping PML telah menemukan kata kunci bahwa keduanya bisa digabung dan diintegrasikan dengan cara memayunginya dalam kegiatan persiapan sebagai badan layanan umum daerah (BLUD).

Dengan adanya payung BLUD, diharapkan para manajer dan pelaksana di RSUD Ende tidak banyak tersita waktunya untuk mengerjakan program dan melupakan tugas pokok pelayanan. Semoga integrasi ini selain meningkatkan kinerja PONEK, juga meningkatkan kinerja rumah sakit secara umum.

Posted in Artikel | Leave a comment

Executive Summary Pendampingan Manajemen Klinis Juli 2012

Pendampingan manajemen klinis dalam PML bersandar pada empat pilar clinical governance. Walau clinical governance dalam perkembangan dunia perumahsakitan dewasa ini lebih diutamakan pada tata kelola klinis di lingkungan komite medis, ada berbagai aspek penting dalam clinical governance yang perlu dibangun bersamaan dengan sistem manajemen rumah sakit.

Hasil need assessment sebagai langkah kedua kegiatan PML telah menunjukkan dengan tegas bahwa belum ada satu sistem pun dalam manajemen mutu klinis di RSUD Ende yang telah berjalan secara menyeluruh. Beberapa aspek mutu pelayanan yang diukur terpusat pada pelayanan unggulan PONEK 24 jam lewat sister hospital. Mempertimbangkan hasil need assessment, kaji banding, permintaan dari Dinkesprov, permintaan dari RSUD Ende, dan program khas dari RS Panti Rapih, dipilihlah enam program utama pendampingan klinis. Keenam program ini dapat dibaca selengkapnya pada rincian dan hasil kegiatan pada bagian lain bab ini dan pada lampiran kegiatan.

Salah satu syarat penting pada pembangunan sistem pengelolaan keuangan BLUD adalah standar pelayanan minimal (SPM). Standar pelayanan minimal ini adalah ibarat janji RSUD Ende kepada Bupati bahwa dengan PK BLUD, akan ada peningkatan pelayanan bagi masyarakat luas. Dalam dimensi mutu, dapatlah SPM ini dipakai sebagai titik tolak pengukuran mutu. Dokumen SPM telah dipersiapkan jauh hari sebelum pendampingan manajemen klinis ini dimulai dengan bimbingan oleh BPKP. Selain daftar indikator klinis yang mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan no. 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, BPKP menyarankan tim SPM RS untuk juga mengumpulkan indikator mutu dari masing-masing pelayanan berdasarkan sepuluh besar penyakit.

Dalam perkembangannya, setelah berkonsultasi dengan konsultan dari PMPK FK UGM, didapatkan pertimbangan penting bahwa SPM RS dengan standar tinggi dan ideal seperti itu akan menyulitkan pemenuhan standar tersebut oleh RSUD Ende. Bukanlah kondisi pencapaian ideal yang dituangkan dalam SPM RS, namun kondisi minimal yang harus terpenuhi sebagai tolok ukur pelayanan PK BLUD. Dengan pertimbangan inilah telah dilakukan revisi dokumen SPM RS.

Demikian pula pada pemenuhan berbagai standar peralatan dan sarana lain di unit-unit kerja, telah disesuaikan agar tidak terlalu banyak membebani penganggaran RSUD Ende ke depan. Hal ini mengingat kebutuhan untuk memenuhi standar pelayanan minimal tersebut cukup tinggi dan perlu direncanakan dalam beberapa tahap. Pendamping manajemen klinis belum dapat mengikuti secara detil perkembangan pengukuran SPM RS.

Revitalisasi fungsi komite medis di RSUD Ende dalam beberapa hal ternyata menjadi kontra produktif dari sisi pelayanan. Sejak dulu, komite medis RSUD Ende telah ikut berperan dalam pelayanan rumah sakit terutama dengan cara pengaturan rotasi dokter umum untuk mengikuti pelayanan spesialis. Selain itu, penjadwalan jaga, cuti, dan advokasi telah juga menjadi bagian kerja komite medis. Setelah Permenkes no. 755/Menkes/Per/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit diperkenalkan dan diimplementasikan dalam susunan komite medis yang baru, muncul berbagai permasalahan terkait teknis praktek dokter di dalam rumah sakit.

Hal ini persis seperti gambaran yang muncul pada berbagai pertemuan nasional dewasa ini bahwa komite medis mengurus berbagai hal yang terkait dengan proses administrasi praktek dokter di rumah sakit, namun melupakan fungsi utama sebagai badan profesional intra rumah sakit yang bertanggung jawab pada mutu pelayanan klinis. Menurut Permenkes baru tersebut, peran utama komite medis dalam rumah sakit adalah tata kelola klinis saja. Tata kelola klinis ini dibagi menjadi fungsi kredensial, penjagaan mutu, dan pembinaan etika. Walaupun struktur komite medis baru telah disahkan, masih jauh langkah yang perlu ditempuh sampai tata kelola klinis ini dapat menjadi roh yang menggerakkan komite medis.

Panitia mutu rumah sakit sudah dibentuk oleh Direktur RSUD Ende. Walau demikian, belum ada program kerja yang dapat disusun dan dilakukan. Penting untuk dicatat bahwa dalam dokumen rencana strategis yang dibuat terdahulu, tidak tertulis mengenai kewajiban para pejabat struktural RSUD Ende untuk mengurus mutu rumah sakit. Diharapkan dalam renstra yang baru komitmen ini sudah menjadi bagian integral dari integritas setiap pejabat struktural.

Program komunikasi dan kepuasan pelanggan juga belum terlalu banyak kemajuan. Saat ini, pendampingan klinis sedang bekerja sama dengan komite keselamatan pasien rumah sakit untuk menyusun beberapa kegiatan, utamanya hand hygiene yang akan melibatkan pasien dan keluarga. Untuk itulah nanti akan diperlukan berbagai media komunikasi dengan pasien dan keluarga pasien. Media-media komunikasi inilah yang nanti akan mengisi program komunikasi dan kepuasan pelanggan. Juga akan ada kerja sama dengan panitia mutu rumah sakit apabila strukturnya sudah ada, untuk merevitalisasi kotak saran yang saat ini telah ada namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Salah satu kaitan penting tata kelola klinis dengan manajemen rumah sakit secara umum adalah penggunaan rekam medis sebagai sumber pelaporan untuk dasar pengambilan keputusan manajemen dan sebagai dokumentasi pelayanan klinis. Selain itu, pembangunan sistemik pelayanan rekam medis akan membantu RSUD Ende dalam kepastian hukum dan proses klaim terkait pembiayaan pihak ketiga.

Untuk meningkatkan aspek hukum dalam rekam medis, sistem pelaporan manajemen, dan dokumentasi pelayanan klinis, pendamping manajemen klinis bekerja sama dengan kepala instalasi rekam medis RS Panti Rapih. Dari kerja sama inilah kemudian muncul berbagai persoalan di dalam instalasi rekam medis yang harus terlebih dulu dibereskan sebelum dapat mencapai tujuan program kerja. Hal ini mulai dari pengaturan penjadwalan para perekam medis, perbaikan formulir-formulir rekam medis, pengelolaan arsip, dan pembaruan sistem pelaporan berdasarkan perkembangan keilmuan terkini.

Sebagian permasalahan dasar tersebut telah mulai dapat diperbaiki dan telah mulai nampak hasil perbaikannya. Ini terutama nampak pada proses pendaftaran pasien, proses pengambilan berkas rekam medis, dan lain-lain. Langkah selanjutnya yang perlu adalah percepatan pembaruan berbagai formulir rekam medis sebagai sarana utama dokumentasi pelayanan klinis, penyusunan BPPRM, dan pembaruan formulir informed consent.

Gerakan keselamatan pasien rumah sakit telah menjadi gerakan nasional yang tidak dapat dihindari lagi. Dalam instrumen akreditasi versi baru, pemenuhan sasaran keselamatan pasien menjadi syarat nilai major pertama yang harus mencapai 80%. Mutu pelayanan klinis semua diukur dari seberapa aman pelayanan medis dan pelayanan klinis dilakukan. Hal ini mendorong adanya program pembangunan sistem keselamatan pasien rumah sakit di RSUD Ende.

Pembangunan sistem keselamatan pasien di RSUD Ende dibuka dengan diadakannya workshop keselamatan pasien dan manajemen resiko klinis oleh tim keselamatan pasien RS Panti Rapih. Dalam kesempatan ini, diberikan semua materi sesuai dengan kurikulum pokok workshop keselamatan pasien dan manajemen resiko klinis yang diadakan oleh PERSI, KARS, IMRK, dan KKPRS.

Pendamping manajemen klinis bersyukur bahwa gerakan keselamatan pasien ini didukung oleh tim yang cukup solid sehingga RSUD Ende dalam waktu kurang dari satu bulan sejak workshop telah mendeklarasikan gerakan keselamatan pasien di RSUD Ende. Deklarasi ini penting, karena seluruh gerakan keselamatan pasien akan bersumber dari kekuatan komitmen seluruh elemen di rumah sakit terhadap keselamatan pasien. Dari berbagai program keselamatan pasien yang telah diperkenalkan, pendamping PML memilih satu program unggulan yaitu hand hygiene.

Program hand hygiene sebagai program unggulan tidak lepas dari keterikatan emosional dan prinsip pendampingan PML dan sister hospital. Kematian ibu dan bayi yang selalu menjadi sorotan dalam sistem PONEK 24 Jam di kegiatan sister hospital benar-benar berkaitan dengan infeksi. Infeksi yang terjadi di dalam rumah sakit, menurut berbagai penelitian, dapat ditekan sampai minimal dengan adanya program hand hygiene yang baik.

Di masa depan, hand hygiene akan menjadi materi utama program komunikasi dengan pasien dan keluarga pasien. Diharapkan hand hygiene menjadi nafas pelayanan di dalam RSUD Ende sehingga dapat meminimalkan infeksi baik dalam pelayanan neonatus, pelayanan maternal, dan pelayanan-pelayanan lain. Dengan adanya program implementasi hand hygiene ini, diharapkan angka infeksi luka operasi juga akan menurun.

Posted in Artikel | Tagged | Leave a comment

Executive Summary Pendampingan Manajemen Keuangan Juli 2012

Seksi Akuntansi RSUD Ende belum mampu membuat laporan keuangan sesuai dengan SAP dan SAK terbukti belum adanya pembukuan akuntansi secara harian dan laporan keuangan dibuat secara tahunan oleh Kepala Bidang Keuangan dan bukan oleh Seksi Akuntansi. Untuk pembuat laporan keuangan belum bisa membuat secara rutin (periodik) karena kompetensi yang masih belum cukup (seorang sarjana kesehatan masyarakat) dan belum pernah kursus atau pelatihan untuk akuntansi terapan karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Dengan demikian dilakukan program untuk meningkatkan pengelolaan keuangan dengan melengkapi dokumen keuangan RSUD Ende (flow chart, SOP, dan formulir), penyusunan sistem keuangan (cash management system), sosialisasi draf cash management system serta penyusunan SOP akuntansi siklus pendapatan dan biaya.

Pada bulan Mei 2012 dilakukan workshop dengan judul “Sistem Keuangan BLUD” yang membahas laporan aliran kas dari akuntansi BLUD, siklus pemrosesan akuntansi, dan laporan akuntansinya. Setelah workshop, dilakukan sesi diskusi membahas perencanaan pembuatan flow chart pendapatan dan biaya dengan contoh yang dibawa dari PMPK UGM. Diharapkan RSUD Ende dapat membuat flow chart tersebut sebagai dasar alur dokumen dan transaksi yang ada.

Pada bulan Mei 2012 tim mitra A melakukan diskusi dan pemantauan tentang kelengkapan dokumentasi keuangan yang menghasilkan kesimpulan bahwa RSUD Ende belum mempunyai SOP tentang keuangan dan akuntansi. Workshop tersebut berjalan dengan baik, tetapi kelas cenderung tidak aktif karena tidak terjadi diskusi atau tanya jawab terkait praktik lapangan di RSUD Ende. Setelah workshop, dilanjutkan kegiatan pendampingan penyusunan manual sistem beserta formulirnya atau penyusunan sistem akuntansi dimulai dengan pembuatan sistem pendapatan dan biaya. Untuk menghasilkan dokumen keuangan yang tepat waktu, dalam pembuatan manual sistem dibentuk tim kerja yaitu: Herlina, Rina, Vincent, dan Masina. Pembentukan tim kerja untuk membuat arus sistem keuangan termasuk penyusunan flow chart, SOP keuangan, dan monitoring dan evaluasi internal.

Pada bulan Juni 2012 kami melakukan monitoring terhadap perkembangan tim dalam membuat manual mutu pendapatan dan biaya, tetapi belum ada hasil karena terkendala kesibukan rutinitas dan belum adanya SK Direktur yang menunjukkan penugasan dalam membuat manual mutu. Akhirnya kami dan ibu Mensi (kepala bidang keuangan) membuat usulan pembuatan SK kepada Direktur. Dengan demikian tim kerja keuangan RSUD Ende belum membuat dokumen keuangan seperti yang direncanakan.

Bagian koding verifikator internal Jamkesmas rumah sakit sudah bisa dan biasa dengan perangkat teknologi informasi terutama dengan kode INA-CBG’s, terbukti dengan pembuatan tagihan Jamkesmas yang tepat waktu. Dengan demikian tim mitra A melakukan kegiatan untuk meminimalkan jumlah piutang yang belum tertagih. Hasil diskusi dan pemantauan pada bulan Mei 2012 piutang Jamkesmas memang sulit untuk dicairkan secara tepat waktu karena ada beberapa faktor eksternal yang sulit dikendalikan pihak internal rumah sakit. Oleh karena itu, dilakukan perubahan program kegiatan yaitu dengan melakukan workshop pengelolaan logistik.  Workshop sistem pengelolaan logistik dilakukan dengan materi dari perencanaan, pengadaan, penyimpanaan, pendistribusian, dan pencatatan persediaan. Belum dilakukan analisis.

Rumah Sakit Umum Ende belum memiliki infrastruktur jaringan LAN (hardware) untuk mendukung pelayanan kesehatan di rawat jalan maupun di rawat inap. Selain infrastruktur hardware, RSUD Ende juga belum menerapkan billing system elektronik untuk memudahkan administrasi pelayanan rawat inap. Sistem operasional masih bersifat konvensional terutama bagian pendaftaran pasien yang masih manual (belum menggunakan perangkat komputer), demikian juga pada saat pembayaran pasien masih menggunakan kuitansi manual dan belum menggunakan kuitansi elektronik. Ini meningkatkan kebutuhan terhadap pengendalian internal yang baik untuk menghindari fraud.

Untuk meningkatkan akurasi data rumah sakit dan meningkatkan kecepatan layanan administrasi direncakanan penyusunan billing sistem rumah sakit. Program ini belum dilakukan karena adanya kebingungan antara kami (tim mitra A) dan PMPK UGM yang bekerjasama dengan AIPMNH yang akan melakukan instaling software dan hardware untuk pelaksanaan billing system di RSUD Ende sebagai pilot project sistem informasi rumah sakit di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Seksi akuntansi belum mengerjakan proses akuntansi yang sebenarnya karena kondisi SDM yang kurang bisa bekerja dengan baik. Sementara ini proses akuntansi masih diemban oleh kepala bidang keuangan dan dikerjakan secara instan setiap tahun untuk laporan keuangan. Manual sistem sudah ada dan komputer masih terbatas, satu unit untuk dua orang. Juga kebijakan akuntansi untuk RSUD Ende belum ada. Untuk mendukung pelaksanaan BLUD rumah sakit maka harus melengkapi laporan keuangan berbasis pada SAK dan bukan lagi kepada SAP. Maka RSUD Ende harus bisa membuat laporan keuangan dengan standar umum. Dengan demikian dilakukan program kegiatan workshop pembuatan laporan keuangan sesuai dengan standar yang diharapkan dalam BLUD.

Pelatihan penyusunan laporan keuangan versi BLUD dalam pelaksanaannya dimulai dengan workshop Dasar-Dasar Akuntansi dan dilaksanakan pada bulan Mei 2012, tetapi hal ini kurang mempunyai nilai tambah pada staf keuangan dan akuntansi karena peserta tidak semua target peserta dapat hadir. Sesi diskusi juga tidak jalan karena tidak ada staf RSUD Ende yang mengajukan pertanyaan. Workshop berjalan dengan baik, tetapi pelaksana pembuat laporan keuangan di bagian keuangan dan akuntansi belum begitu paham karena bukan berlatar belakang dari akuntansi.

Pada bulan yang sama juga dilakukan workshop Pengenalan Standar Akuntansi untuk BLUD, workshop Sosialisasi draf cash management system dan penyusunan SOP akuntansi siklus pendapatan dan biaya. Dilakukan juga workshop “Sistem Keuangan BLUD” yang membahas laporan aliran kas dari akuntansi BLUD, siklus pemrosesan akuntansi, dan laporan akuntansinya. Workshop ini dilaksanakan bersamaan dengan membahas cash management system dan siklus pendapatan dan biaya. Pada sesi terakhir dibuat tim untuk mebuat kebijakan akuntansi yaitu: Ibu Ista dan Nona. Workshop ini berjalan dengan baik dan dibentuk tim kerja untuk mebuat kebijakan akuntansi. Pada bulan Juni 2012 dilakukan pendampingan penyusunan prosedur keuangan dan kebijakan akuntansi BLUD. Pendampingan dimulai dengan monitoring terhadap perkembangan tim dalam membuat kebijakan akuntansi sebagai dasar pembukuan transaksi. Belum ada hasil karena kendala kesibukan rutinitas dan belum adanya SK Direktur yang menunjukkan penugasan dalam membuat manual mutu. Akhirnya kami dan ibu Mensi membuat usulan pembuatan SK kepada Direktur. Hasil monitoring menunjukan bahwa tim kerja belum melakukan kegiatan dalam pembuatan kebijakan akuntansi.

Sebagai persyaratan rumah sakit yang berstatus BLUD harus bisa membuat tarif dengan berdasarkan pada perhitungan unit cost. Unit cost dapat dibuat bila rumah sakit dapat mengidentifikasi biaya dengan baik. Maka kami membuat program kegiatan dengan tujuan rumah sakit dapat mengidentifikasi biaya secara tepat. Inilah alasan dilakukannya workshop “Akuntansi Biaya Rumah Sakit” pada bulan Mei 2012. Workshop ini digabung dengan workshop penyusunan unit cost dan pentarifan, maka workshop diberi judul ” Analisis Biaya Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Sebagai Dasar Penyusunan Pola Tarif Baru, Anggaran/Subsidi, Pengukuran Kinerja dan Negosiasi dengan Stakeholder. Setelah workshop, dilakukan sesi diskusi. RSUD Ende belum melakukan klasifikasi biaya rumah sakit untuk pengambilan keputusan. Workshop berjalan dengan baik dan RSUD Ende sudah pernah menyusun unit cost tetapi belum selesai.

Pada workshop dilakukan sekalian dengan bimbingan teknis pembuatan unit cost metode double distribution dengan studi kasus rumah sakit swasta di Jawa Barat. Setelah bimtek, dilakukan diskusi bahwa RSUD Ende pernah melakukan pelatihan perhitungan unit cost dengan sistem double distribution pada tahun 2011 dengan melakukan analisis perhitungan dengan data tahun 2010. Sebelum diskusi berakhir dibentuk tim untuk membuat unit cost, yaitu: Ann, Risna, Gervas, dan Nona. Setelah satu bulan, dilakukan implementasi penyusunan unit cost. Pada tahap ini dilakukan pendampingan dengan dimulai monitoring penyusunan unit cost. Hasil monitoring implementasi penyusunan unit cost tidak jalan. Setelah itu pada tanggal 29 Juni 2012 dilanjutkan pendampingan oleh Bp Yos Hendra untuk penyusunan unit cost, tetapi RSUD belum bisa mempersiapkan data-data pendukung untuk penyusunan unit cost tersebut. Dengan kata lain, penyusunan unit cost belum jalan.

Kemampuan SDM membuat anggaran masih berfokus pada satu orang yaitu Kepala Bidang Keuangan. Penyusunan anggaran tahun 2012 sudah tepat waktu, sehingga dapat disimpulkan bahwa yang SDM yang paham terhadap RBA hanya kepala bidang keuangan saja. Kemampuan SDM dalam penguasaan anggaran terutama Kepala Bidang Keuangan cukup baik, tetapi untuk struktural yang lainnya belum baik. Proses penyusunan RKA dan Anggaran sudah melibatkan semua unit kerja dengan mengumpulkan semua usulan unit kerja dikumpulkan melalui kepala bidangnya masing-masing, sehingga unit kerja hanya terlibat dalam pengusulan kebutuahan operasional tahun yang akan datang.

Selain itu setelah BLUD maka rumah sakit harus membuat RAB berdasarkan pada RSB, maka tim mitra A membuat program kegiatan dengan tujuan rumah sakit dapat menyusun anggaran rumah sakit yang komprehensif. Dilakukan Workshop “Penyusunan Rencana Strategi Bisnis (RSB)” pada bulan Mei 2012, sebagai permulaan sebelum dilakukan workshop penyusunan anggaran. Workshop Penyusunan Rencana Strategi Bisnis Rumah Sakit sudah dilakukan oleh ibu Putu Eka Andayani (PMPK) dengan didahului workshop BLUD. Pada kenyataannya RSUD Ende sudah membuat RSB, tetapi RSB yang disusun belum terintergrasi dengan dokumen SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang merupakan dokumen pokok untuk mengajukan BLUD. Dengan demikian setelah sesi workshop dilakukan dengan penilaian dan revisi RSB dan SPM dengan dipandu oleh ibu Putu. Workshop berjalan dengan baik dan RSUD Ende sudah mempunyai dokumen RSBdan langsung dilakukan assessment oleh ibu Putu Andayani. Workshop “Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA)’, maka dilakukan pendampingan penyusunan RBA. Workshop Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran dilakukan patan tanggal 07 Mei 2012 dengan didahului perhitungan proyeksi pendapatan dan biaya pada dokumen RSB. Pada tanggal 28 Juni 2012 dilakukan bimtek penyusunan RBA dengan seluruh staf keuangan dan akuntansi, tetapi kurang berjalan dengan baik karena RSUD Ende belum bisa membawa data keuangan  dan non keuangan rumah sakit sebagai dasar penyusunan RBA. Dilakukan pendampingan dalam revisi RSB dan menghasilkan dokumen RSB yang sudah direvisi.

Untuk mengetahui mutu pelayanan rumah sakit, maka kita harus bisa mengetahui penilaian kinerja Rumah Sakit. Dengan demikian, tim mitra A melakukan pendampingan dan sosialisasi “Pentingnya penilaian kinerja organisasi”. Pendampingan dan sosialisasi dilakukan dalam bentuk workshop yaitu “Kinerja Keuangan Organisasi Nirlaba”. Workshop dihadiri semua pejabat struktural. RSUD Ende sudah melakukan pembuatan penilaian kinerja dalam bentuk laporan keuangan dan laporan mutu pelayanan sebagai dasar persyaratan akreditasi lima bidang pelayanan. Hasil baru sebatas dalam sukses dilakukan workshop dan RSUD sudah membuat penilaian kinerja rumah sakit dengan standar akreditasi yang versi lama.

Supaya rumah sakit dapat mencapai tujuan operasional seperti yang diharapkan, maka dilakukan pengendalian untuk setiap proses kegiatan. Salah satu bentuk kegiatan tersebut adalah dengan diadakannya Satuan Pengendalian Internal (SPI) atau diusebut audit internal. Dengan demikian kami melakukan bimbingan teknis dan workshop SPI-Audit Internal. Bimtek SPI (Satuan Pengawas Internal) atau Audit Internal sudah dilakukan dengan materi audit internal operasional (kinerja) dan keuangan. RSUD Ende belum mempunyai SPI dan masih mempertimbangkan untuk pembentukan SPI karena keterbatasan jumlah SDM. Workshop berjalan lancar.

Posted in Artikel | Tagged | Leave a comment

Executive Summary Pendampingan Manajemen Umum Juli 2012

Pendampingan manajemen umum memfokuskan pada penetapan pengelolaan keuangan RSUD Ende sebagai badan layanan umum daerah dan pendampingan kompetensi kepemimpinan (leadership) direktur dan pejabat struktural lain. Manajemen aset juga menjadi bagian penting pada manajemen umum dan merupakan usulan dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dinkesprov) yang ditambahkan kemudian.

Keterampilan manajemen dan kepemimpinan bersifat abstrak namun secara riil dibutuhkan dalam keberhasilan suatu organisasi. Keahlian memimpin dan manajemen seseorang tergantung dari pengetahuan dan pengalaman dalam memimpin. Pendekatan yang dilakukan dalam PML di RSUD Ende adalah bagaimana seluruh program kegiatan dalam PML ini menjadi media belajar keterampilan kepemimpinan. Berjalannya proses dan tercapainya luaran-luaran yang diharapkan oleh Dinkesprov dan RSUD Ende sendiri, mutlak membutuhkan keterampilan kepemimpinan dan manajemen dari direktur, kepala bidang, kepala seksi, dan pejabat struktural lain yang terkait.

Pendampingan capacity building dalam bidang kepemimpinan dan manajemen ini difokuskan pada pemberian materi yang bersifat praktis disertai dengan penugasan dalam bentuk penyelesaian program PML yang telah disusun dan disepakati bersama. Hal ini sesuai dengan kerangka berpikir bahwa bila program PML telah berjalan dengan baik berarti para pemimpin dan pejabat struktural di RSUD Ende telah belajar meningkatkan kemampuan dalam memimpin dan melakukan manajemen terhadap sumber daya manusia dan sistem.

Khusus pada keterampilan kepemimpinan, fokus pembelajarannya adalah pada keempat pilar dasar leadership yaitu directing, coaching, supporting, dan delegating. Keterampilan ini akan dievaluasi dan didampingi selama program PML. Direktur RSUD Ende sendiri yang diharapkan memimpin seluruh prosesnya. Pemahaman mengenai keempat pilar kepemimpinan di kalangan pemimpin RSUD Ende sendiri masih sangat perlu dikembangkan. Dalam beberapa pengamatan, pemimpin sering dipahami sebagai jabatan formal yang mempunyai wewenang untuk memerintah anak buah. Belum secara luas dipahami bahwa antara pemimpin dan yang dipimpin sebenarnya adalah satu paket tidak terpisahkan yang memerlukan kerja sama. Dengan kata lain, pemimpin dan yang dipimpin adalah sebuah tim.

Oleh karena itu, sesuai dengan semangat “fonga sama” yang telah dibangun dalam sister hospital, konsep pendampingan kepemimpinan dan manajemen di RSUD Ende tetap berfokus pada kerja sama yang merupakan intisari kepemimpinan. Kesediaan menjalankan peran sebagai pemimpin dengan directing, coaching, supporting, dan delegating, disertai dengan pemagangan yang benar, diharapkan ada peningkatan keterampilan kepemimpinan mereka. Begitu juga kesediaan anggota yang dipimpin untuk menjalankan tugas dengan bantuan direction, coaching, support, dan delegation yang benar akan meningkatkan rasa percaya diri dan saling percaya. Pada akhirnya, serangkaian program PML yang bisa terlaksana akan menjadi bahan refleksi pembelajaran peningkatan kemampuan manajemen dan kepemimpinan.

Posted in Artikel | Tagged | Leave a comment

Executive Summary Sister Hospital Triwulan 4

Sedianya triwulan ini (April – Juni 2012) akan menjadi triwulan terakhir dalam program sister hospital reguler yang kedua. Dalam perkembangannya, program reguler kedua ini diperpanjang sampai dengan Desember 2012 dengan salah satu pokok programnya adalah exit strategy untuk menyerahkan kembali berbagai fungsi dan kegiatan yang selama ini menjadi scope of service kegiatan sister hospital kembali kepada manajemen RSUD Ende dan Pemerintah Kabupaten.

Triwulan keempat program reguler atau triwulan kedua tahun 2012 ini merupakan periode dengan jumlah kematian ibu yang tertinggi selama periode yang sama sejak tahun 2010. Persentase rujukan ibu juga meningkat cukup banyak namun dengan jumlah komplikasi yang menurun. Dalam kondisi jumlah komplikasi yang menurun ternyata jumlah kematian meningkat. Perlu ada analisis akar penyebab masalah mengapa hal ini dapat terjadi. Audit maternal perinatal atas kematian ibu ini tidak dapat menjawab penyebab semua kematian maternal pada level pelayanan di rumah sakit.

Apabila pada pelayanan maternal terdapat kenaikan kematian ibu, tidak demikian pada pelayanan neonatal. Secara kumulatif terdapat penurunan angka kematian neonatus selama program kegiatan sister hospital. Bila data dianalisis tiap triwulan, terdapat variasi kenaikan dan penurunan angka kematian neonatus. Berbeda dengan pelayanan maternal, tidak terdapat kenaikan pada neonatus yang dirujuk ke RSUD Ende. Mulai bulan Juli 2012, tidak lagi ada perawat perinatologi dari RS Panti Rapih yang melayani di RSUD Ende sebagai bagian dari exit strategy. Perlu pengamatan lanjutan apakah akan ada perubahan angka kematian neonatus atau tidak.

Pelayanan obstetri-ginekologi pada triwulan terakhir ini telah didukung oleh dua orang spesialis kebidanan dan penyakit kandungan. Beban kerja yang telah cukup tinggi tidak dapat dicukupi oleh satu orang ahli saja. Ke depan, tim manajemen RS Panti Rapih telah mendapatkan dua orang spesialis kebidanan dan penyakit kandungan purna waktu sebagai tulang punggung pelayanan PONEK 24 jam ke depan, paling tidak sampai akhir 2012. Kerja sama dengan Universitas Udayana yang makin erat dan luas juga akan menjadi jaminan adanya pelayanan kebidanan dan penyakit kandungan, kesehatan anak, dan anestesi dan reanimasi. Perjanjian kerja sama antara RS Panti Rapih dan Universitas Udayana mengenai pelayanan PONEK 24 Jam di RSUD Ende telah ditandatangani kedua pimpinan institusi.

Terkait dengan pelayanan maternal dan neonatal, tim kerja 02 telah membuat daftar kesesuaian rujukan dengan protokol yang ditetapkan. Dari data rujukan Mei dan Juni 2012, lebih dari 80% rujukan telah sesuai dengan protokol rujukan yang ditetapkan sementara sisanya belum memenuhi protokol rujukan. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dinkesprov) pada saat ini sedang mempersiapkan protokol rujukan dengan pendekatan yang lebih sistemik. Diharapkan banyak hal terkait prosedur rujukan dapat diadaptasi dari sistem yang akan ditetapkan oleh Dinkesprov. Walau demikian, tim manajemen RS Panti Rapih akan membuat pembaruan dalam membuat laporan bulanan sehingga data rujukan dapat terintegrasi dengan sistem pelaporan pelayanan PONEK 24 Jam lainnya.

Kesibukan di dalam RSUD Ende untuk mempersiapkan BLUD, master plan pembangunan, dan lain-lain menjadi alasan tim kerja PONEK mengapa tidak terlalu banyak kegiatan capacity building di RSUD Ende. Sebenarnya, dalam program kerja tim reguler kedua, capacity building tidak hanya dalam bentuk kelas maupun bedside namun juga dalam pengelolaan analisis kepatuhan dan analisis content SOP.

Dalam laporan ini, secara lengkap akan dapat disimak bagaimana program kerja Juli 2011 – Juni 2012 telah dapat terlaksana semua oleh tim kerja 01, tim kerja 02, tim kerja 03, dan tim manajemen. Oleh karena itu, sampai dengan Desember 2012 telah disusun program kerja baru yang berisi lanjutan program kerja periode Juli 2011 – Juni 2012 dengan beberapa modifikasi. Ada beberapa program kerja yang dihilangkan dan dimodifikasi sesuai kondisi terbaru saat ini.

Temuan-temuan dalam monitoring dan evaluasi HOGSI awal tahun 2012 yang lalu juga telah banyak yang ditindaklanjuti. Walaupun temuan pada monitoring dan evaluasi HOSGI tersebut banyak bersandar pada irisan waktu saat kegiatan monev dan kurang memperhatikan proses yang telah berjalan, memang terdapat berbagai kelemahan dalam pelayanan PONEK 24 jam di RSUD Ende. Sebagian temuan tersebut telah ditindaklanjuti baik oleh tim kerja PONEK maupun oleh pejabat struktural RSUD Ende.

Selain exit strategy dalam hal penganggaran di Kabupaten Ende yang dikerjakan dengan advokasi secara maraton, terdapat exit strategy dalam hal pengembalian beberapa hal terkait beban kerja pelayanan PONEK yang tadinya dilakukan oleh tim kerja kepada pejabat struktural ataupun profesi yang terkait. Salah satu penting adalah bagaimana catatan statistik pelayanan PONEK 24 jam yang tadinya dikerjakan oleh tim manajemen dapat dialihkan kembali kepada instalasi rekam medis yang sebenarnya lebih kompeten dalam mengerjakan hal ini.

Poin penting terakhir yang perlu disampaikan adalah mengenai hand hygiene. Asfiksia, prematuritas, dan BBLR yang menjadi tiga komplikasi utama pada pelayanan neonatus akan berakhir pada sepsis neonatorum apabila hand hygiene dalam pelayanan kurang diperhatikan. Oleh karena itu, satu titik penekanan penting pada kelanjutan program kerja PONEK 24 jam sampai Desember 2012 adalah gerakan hand hygiene. Gerakan ini akan terintegrasi dalam kegiatan performance management and leadership khususnya dalam pendampingan manajemen klinik oleh komite keselamatan pasien rumah sakit. Diharapkan, RSUD Ende dapat menjadi rumah sakit terdepan dalam gerakan hand hygiene yang sebenarnya telah dicanangkan oleh World Health Organization beberapa tahun yang lalu.

Posted in Artikel | Tagged | 1 Comment

Presentasi Sister Hospital di Australia

Besar sekali rasa syukur, karena metode modifikasi action learning yang dipakai sebagai penggerak utama kegiatan sister hospital RSUD Ende dan RS Panti Rapih dapat go international. Adalah dr. Triharnoto, M.B.A., M.Sc., SpPD yang membawa hasil kerja timnya ke forum FAOPS dan PSANZ di Australia. Acara tersebut dilaksanakan di hari Rabu, 21 Maret 2012 di Sydney, Australia. Berikut foto dan presentasinya.

Toto

Presentasi dr. Toto di Australia. Sebagai satu-satunya presentan dari Indonesia, setelah presentasi dr. Toto dikepung beberapa pakar yang ingin tahu lebih jelas mengenai presentasi tersebut.



Posted in Berita | Leave a comment

PML – Workshop Lokal Plan of Action

Langkah keempat dalam performance management and leadership adalah workshop plan of action di daerah. Mempergunakan hasil need assessment dan hasil kaji banding, tim pendamping PML telah menyusun rencana-rencana aksi. Rencana-rencana aksi ini dipresentasikan ketiga pendamping di depan direktur RSUD Ende, ketua Komisi C DPRD Ende, Bupati Ende, dan perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi NTT.

Acara diawali dengan kunjungan Bapak Bupati dan pejabat-pejabat Kabupaten Ende ke kamar operasi, gedung rawat inap ruang nifas baru, dan incinerator baru. Kunjungan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan di ruang pertemuan.

Meninjau kamar operasi

Bupati Ende dan para pejabat sedang mendengarkan paparan Direktur RSUD Ende mengenai peralatan di Kamar Operasi RSUD Ende. Perlu digarisbawahi, semua jas putih dan topi putih dibuat sendiri oleh staf kamar operasi, terinspirasi oleh kamar operasi RS Panti Rapih yang dilihat saat magang.

Incinerator

Bapak Bupati sedang mendengarkan paparan mengenai kemampuan mesin incinerator. Sebelumnya, RSUD Ende membakar sampah medis seperti membakar sampah rumah tangga.

Sambutan disampaikan oleh perwakilan dari Dinkesprov NTT Bapak Mamun Patty, Ketua Komisi C DPRD Ende Bapak Heribertus Gani, dan Bapak Bupati Ende, Don Bosco M. Wangge.

Mamun Patty

Bapak Mamun Patty dari Dinkesprov NTT sedang memberikan sambutan. Dalam sambutan ini, Pak Mamun memunculkan istilah "hospital idol" untuk menggambarkan kompetisi sehat antar para pasangan RS Mitra A dan RS Mitra B dalam Sister Hospital dan PML.

Heri Gani

Bapak Heri Gani, Ketua Komisi C DPRD Ende sedang memberikan sambutannya. Pak Heri Geni menegaskan kembali dukungan DPRD terhadap usaha-usaha mengembangkan RSUD Ende.

Don Bosco M. Wangge

Bapak Bupati Ende memberikan sambutan. Di tengah ketatnya agenda harian, tidak pernah sulit menghubungi Bapak Bupati untuk keperluan pengembangan RSUD Ende dan kegiatan sister hospital.

Dalam presentasinya, dr. Triharnoto, M.B.A., M.Sc., SpPD sebagai pendamping menajemen umum menggarisbawahi metode modifikasi action learning sebagai dasar utama program pendampingan PML RSUD Ende. Metode dasar ini akan dibawa ke dalam pendampingan manajemen keuangan dan manajemen klinik sehingga para top manager di RSUD Ende dalam mempelajari berbagai aspek kepemimpinan secara langsung.

Fonga Sama

Penampilan grup vokal membawakan lagu FONGA SAMA

Toto

Dokter Triharnoto menyampaikan presentasi pendampingan manajemen umum

Mengutip Pak Yollan Permana S.E., Akt., M.M., fokus pendampingan manajemen keuangan ada enam hal. Keenam hal tersebut adalah cash management system, akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, SIMRS, dan pembentukan satuan pengawas internal.

Yollan

Pak Yollan Permana menyampaikan rencana pendampingan manajemen keuangan

Pendampingan manajemen klinik akan juga berfokus pada enam hal, yaitu revitalisasi komite medis, revitalisasi rekam medis, pengukuran standar pelayanan minimal, keselamatan pasien, pembentukan panitia mutu, dan komunikasi dengan pelanggan.

Arian

Dokter Arian sedang menyampaikan rencana pendampingan manajemen klinik

Dengan selesainya acara ini, genap sudah keempat langkah awal dalam PML. Semoga seluruh rencana dapat diimplementasi dengan baik.

Posted in Berita | Leave a comment